Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juli 2013

Cerita Seks Dewasa - Zaskia Yang Cantik Dan Mumul



”Rif, carilah istri lagi,” kata Zia.

“Gila, Kamu! Apa maksudmu?!” sahut Rifa’i keras.

Mata Zia berkaca-kaca, dadanya yang besar berdegub keras, tangannya sibuk memainkan jilbab biru mudanya. Rifa’i memandang lurus tepat di bola mata Zia, mencari-mencari apa yang ada dalam pikiran wanita cantik itu, istri tercintanya.

Tiba-tiba Zia terisak pelan, meracau bebas. “Aku ikhlas, Rif. Aku ridho. Aku mau di madu.” Setelah kalimat terakhir, Zia menangis lebih keras lagi. Kali ini tersengal-sengal.

Rifa’i memegang bahu Zia, matanya tak lepas menatap Cintanya. “Zia, kamu ngomong apa sih, Sayang?” kali ini nada suara Rifa’i melunak.

“Rif, tidak pahamkah kamu, berapa lama kita menunggu-nunggu buah hati? Tak juakah kamu tahu, betapa aku sudah tidak mampu lagi mendengar pertanyaan dari Abah dan Umi, begitu juga Ibu dan Bapakmu, kakak-kakak iparmu, belum lagi para tetangga yang bergunjing? Sebelas tahun, Rif…” kata-kata Zia tercekat di leher. Wajahnya tiba-tiba memerah, kali ini tangisnya meledak keras tak terbendung hingga tangannya dingin, dan Rifa’i tak mampu menghentikan.

***

Zia menggeliat ketika matahari menerobos ruang kamarnya. Matanya yang bulat masih sembab, sisa tangis tadi malam. Ia terkesiap, mentari tampak malu-malu menampakkan dirinya, embun sisa hujan kemarin menetes di dedaunan, sedang dia masih berbaring malas. Melihat jam weker di samping mejanya, jam 05.30 Wib, Zia langsung mengambil handuk, berwudhu, dan menunaikan sholat. Setelahnya segera menuju dapur, namun langkahnya berhenti seketika begitu melewati ruang makan. Masakan telah terhidang, dan Zia langsung berpikir, Rifa’i. Siapa lagi yang membuat kejutan ini selain laki-laki itu, karena mereka hanya tinggal berdua.

Bergegas Zia mencari sosok Rifa’i hingga dia menemukan suami tercintanya sibuk merapikan Laptop di ruang kerjanya. “Belum tidur, Rif?” kata Zia, mendapati Rifa’i dalam wajah kuyu. Dia langsung menghampiri, membantu Rifa’i berbenah. Kemudian, mata mereka saling bertatapan, kali itu dia melihat mata jengah Rifa’i.

“Rif, makasih buat sarapannya. Maaf ya, aku kesiangan, mestinya aku…”

Rifa’i meletakkan telunjuknya di bibir Zia, “Ssttt, sudahlah, Zia. Kamu telah melakukan ini sepanjang pernikahan kita, sebelas tahun, dan ini bukanlah hal yang kamu sengaja. Kamu telah melakukan yang terbaik, aku hanya ingin sesekali membantumu.” kata Rifa’i seraya berlalu.

Tiba-tiba tangan Zia menahan langkah Rifa’i. “Rif, kemarin malam aku benar-benar serius.”

Rifa’i membalik badan, memegang bahu Zia, menatapnya kembali. “Zia, Kalo kamu serius, baiklah aku setuju. Tapi kamu yang harus mencarikannya untukku.”

Mata Zia sejenak berbinar, tadinya dia tidak yakin Rifa’i akan menyetujui niatnya, kini kekhawatirannya tidak terbukti. Akhirnya Rifa’i menyetujuinya!

***

Minggu pertama – minggu kedua, Zia menelepon seluruh teman baiknya, terutama yang belum menikah. Dia menawarkan ide untuk menikahi Rifa’i. Semua sahabatnya menyebutnya, GILA!

Hingga akhirnya, hari itu Zia menyerah.

Minggu ketiga – minggu keempat, Zia nekat menawarkan suaminya pada sebuah biro jodoh di koran yang pernah dibacanya. Sampai dengan minggu keempat, dia menerima puluhan surat jawaban. Dia mempelajari satu bersatu surat-surat jawaban yang dia dapat, membaca satu persatu. Zia menelitinya dan merasa tidak ada satupun yang sesuai dengn kriteria yang diinginkannya. Terutama adanya syarat untuk membuat surat keterangan berkaitan dengan test kesuburan. Hampir semua surat balasan tidak menyertakan surat keterangan tersebut. Hanya beberapa, tapi tidak memenuhi kriteria karena mereka mulai mengada-ada, hanya seperti menjual rahimnya.

Zia tertunduk lesu.

Minggu kelima – Minggu keenam, Zia menambah volume semangatnya mencarikan istri untuk Rifa’i, suaminya. Kali ini dia menawarkan Rifa’i kepada janda-janda yang dikenalnya dalam majelis taklim di sekitar rumahnya.

Hingga suatu saat, Zia menemukan seseorang yang dianggap cocok, seorang janda satu anak, dan masih sangat belia, suaminya meninggal ketika menjadi TKI di luar negeri. Dengan setengah bergetar, Zia menerima kartu nama yang diberikan si janda. Wajah wanita itu mengingatkan Zia pada seorang artis sinetron di TV, Zaskia Adya Mecca.

Zia mulai cemburu, hatinya berdegup kencang. Dia kembali melihat janda cantik itu, mulai dari wajah hingga postur tubuhnya yang aduhai. Zia kemudian menekuri dirinya. Wajahnya jelas kalah jauh dengan sosok wanita yang kini duduk dihadapannya, begitu juga warna kulitnya yang sawo matang, dibanding wanita itu yang kulitnya jauh lebih bersih dan bersinar.

Tapi kemudian buru-buru dia tepis pikiran cemburu itu jauh-jauh, Zia kembali pada niat awal untuk mendapatkan calon pendamping sang suami.

Lisna, begitulah nama panggilan si janda cantik.

Zia, mulai mengatur jadwal kencan suaminya dengan janda itu. Malam harinya, Zia sengaja mengajak Rifa’i keluar untuk memperkenalkan Lisna pada sang suami.

Lisna datang mengenakan gaun merah dan jilbab merah menyala. ”Cantik sekali!” batin Zia. Hatinya bergetar hebat. Hampir saja dia menangis, terlebih ketika dia melihat Rifa’i yang seakan terpesona oleh kecantikan Lisna.

Sebagai sesama muslimah, Lisna menghargai Zia, sehingga dia bersikap sangat sopan, menunggu Zia memulai pembicaraan. Mereka mulai berbasa-basi memperkenalkan diri masing-masing, sesekali dia melihat mata Lisna melirik malu-malu pada Rifa’i. Dan kilatan mata itu, membuat jantung Zia seakan berhenti. Hatinya terasa terkoyak, Zia meremas jilbab yang ia kenakan. Sedang Rifa’i sepintas, tidak begitu tertarik. Dia malah sibuk memainkan HP-nya.

***

Minggu Kesepuluh

Sudah tiga kali ini suaminya melakukan ta’aruf dengan Lisna. Dan untuk kali ketiga ini, Zia menemukan adanya perbedaan, mulai dari sikap, tindak tanduk, dan juga kebiasaan suaminya. Di matanya, Rifa’i terlihat semakin tampan dan bersih, serta mulai merubah penampilannya.

Puncaknya adalah malam minggu ini, malam keempat dia mengajak Lisna makan malam, dan rencananya Lisna akan mengenalkan Rifa’i kepada keluarga besarnya.

Zia tercekat ketika Rifa’i berpamitan dengannya. Ketika melangkah menuju pintu, dia menubruk Rifa’i dari belakang, memeluknya, terisak hebat di punggungnya.

Rifa’i menoleh ke arah Zia, memandang wajah istrinya yang terisak, kemudian memegang dagu Zia, mencium keningnya. Rifa’i berkata lembut, “Ada apa, Sayang?”

Zia menggeleng, namun sejurus kemudian dia berkata. “Rif, andaikata kamu mencintainya, dan berniat melangsungkan pernikahan, maukah kamu menceraikan aku, karena aku tidak tahan dengan semua ini. Aku mulai tidak ikhlas, Rif.”

Kening Rifa’i mengernyit, seulas senyum nakal terurai di bibirnya. “Katanya kamu mau aku menikahi Lisna, dan kamu rela dimadu? Aku kan cuma menuruti kamu, Sayang. Karena aku sayang sekali sama kamu!” kata Rifa’i.

Tangis Zia semakin keras. “Ternyata sulit menjadi ikhlas, Rif, ketika orang yang sangat kita cintai, harus berbagi cinta dengan yang lain. Tidak, Rif, aku tidak sanggup. Misalkan aku boleh memilih, jika memang kamu sudah terlanjur mencintainya, lebih baik kamu tinggalkan aku, dan menikahlah dengannya. Aku akan lebih menerima itu, karena aku tidak perlu melihat kalian bermesraan setiap hari di hadapanku.” cecar Zia.

Rifa’i tak tak kuasa menahan tawanya, sejurus kemudian dia memeluk Zia, mencium keningnya dan berkata. “Zia, siapa yang akan menikah? Dan siapa yang akan meninggalkanmu? Kamu pikir begitu mudahnya cinta yang kita bina selama sebelas tahun lamanya berpindah hati. Sejak awal menikah, aku sudah memutuskan akan memberikan seluruh jiwa dan ragaku untuk membahagiakan kamu, menyayangi, mencintai, dan melindungi kamu, Sayangku. Ikatan pernikahan kita disaksikan Tuhan, dan menikah bukan permainan, Zia.” kata Rifa’i lembut.

Zia tertegun, menghentikan isaknya, kemudian menjauhkan tubuh Rifa’i seraya berkata. “Loh, bukannya kamu sudah melakukan ta’aruf dengan Lisna? Lalu…”

Rifa’i memotong kata-kata Zia, “Aku sudah memutuskan hubungan sejak hari pertama kami makan malam. Aku pikir kamu konyol sekali menjodohkan aku dengan wanita lain, dan kekonyolan itu harus diakhiri mulai hari itu. Aku memang sengaja merubah penampilan supaya bisa membaca reaksi kamu, ternyata cintamu masih sedalam ketika pertama kita menikah dulu.”

Zia cemberut. Mencubit perut Rifa’i yang gendut. Sedetik kemudian mereka larut dalam cengkrama yang indah, hari ini hari terindah bagi Zia.

Tapi, benarkah begitu ?

***

Sekitar pukul sembilan malam, Rifa’i gelisah menatap jam dinding yang jarumnya terasa lambat berputar. Disampingnya, Zia sudah tertidur pulas setelah sebentar digumulinya tadi, sedikit menumpahkan spermanya di memek Zia yang sempit. Rifa’i melirik arlojinya. Dandanannya sudah sesuai, rapat dalam balutan jaket kulit tebal, dengan bawahan jeans biru belel yang melekat longgar di kaki besarnya. Hari ini jadwalnya ia ’nge-ronda’.

Tak lama, Rifa’i bergerak ke garasi dan dengan pelan mengeluarkan motor dari tempatnya. Dituntunnya sampai ke jalan, lalu berbalik untuk mengunci pintu rumah dan pagar depan. Dijumpainya para tetangga yang sudah berkumpul di pos ronda. Setelah berbasa-basi sejenak, Rifa’i meninggalkan uang 50ribu bagi mereka, sekedar untuk beli kopi dan cemilan. Hari ini ia tidak ikut nge-ronda, ada acara lain yang lebih menarik untuk dihabiskan di malam yang dingin dan sepi ini.

Dengan motornya, Rifa’i meluncur ke sebuah komplek perumahan, komplek yang dihuni kelompok masyarakat menengah ke atas. Perumahan ini tampak lengang pada saat seperti ini. Lampu-lampu jalan klasik tampak menghiasi seluruh sisinya. Sangat indah. Taman-taman kecil bermunculan di setiap halaman rumah, tak ada barang sepetak tanah pun yang dibiarkan kosong. Benar-benar tempat hunian yang nyaman dan indah.

Rifa’i memarkir motornya di blok agak belakang. Seorang wanita cantik berperawakan sedang sudah menunggu dengan senyumnya yang indah. Pagar terbuka, dan wanita itu menyalami Rifa’i.

”Tidak ngantuk kan?” tanya Rifa’i sambil melangkah masuk memasuki ruang tamu.

”Agak sih, habis sudah malam sekali.” jawab wanita berjilbab mirip Zaskia Adya Mecca itu. Ya, wanita itu adalah Lisna!

Saat dia berbalik, bermaksud untuk menemani Rifa’i duduk, saat itu juga Rifa’i menyergap dan memeluknya, lalu merengkuhnya dalam ciuman dan kecupan panas yang membabi buta. Lisna tak sempat mengelak, dia hanya bisa pasrah meringkuk dalam rangkulan Rifa’i yang memang bertubuh jauh lebih besar darinya.

Nafas keduanya sangat memburu. Pelukan-pelukan tangan kekar Rifa’i yang mulanya meremas pantat montok Lisna, kini berpindah ke lengan, sementara mulutnya berusaha mengecup payudara Lisna yang membusung indah di balik dasternya.

”P-pintunya... mas!” lirih Lisna.

Enggan, Rifa’i melepas tubuh montok wanita cantik itu untuk bergerak ke arah pintu dan menguncinya dari dalam. Lalu dengan tak sabar dia menyerbu Lisna kembali, menangkapnya seperti bola dan merebahkannya di sofa merah yang ada di ruang tamu, yang menerima hempasan badan kedua insan yang lagi diamuk birahi itu dengan enggan.

Tangan keduanya saling bergerilya. Lisna yang tidak mau diam diserang oleh Rifa’i, mulai berani menarik sabuk di pinggang laki-laki itu. Rifa’i membiarkannya saja, dengan bertumpu pada lutut, dia tampak sedang sibuk melepas kait BH Lisna. Daster yang tadi dikenakan oleh wanita cantik itu sudah teronggok di lantai. Kini yang tersisa hanya jilbab biru muda dan celana dalam hitam berenda yang menempel di tubuh molek Lisna. Itupun tidak lama, karena Rifa’i mulai menyusupkan salah satu tangannya ke balik celana dalam Lisna setelah berhasil membetot BH-nya.

”Sshhh...” rintih Lisna menahan gejolak saat jari tengah Rifa’i mulai menyentuh lapisan daging membusung berambut tebal miliknya.

”Hhhh...” desah Rifa’i kala tangan Lisna sudah menggenggam kontolnya yang tegang habis.

Tubuh mereka bertindihan. Lisna menggigit-gigit puting di dada Rifa’i, sementara Rifa’i asyik menusuk-nusuk lembut lubang sempit Lisna dengan jari tengahnya. Mata liar Rifa’i melirik ke bawah, ke lubang sempit berbulu rimbun milik Lisna.

”Sempit sekali, Lis.” erang Rifa’i.

”Punyamu juga besar, mas.” balas Lisna. ”Aku takut!” bisiknya manja, terlihat semakin cantik dan menggemaskan.

”Kau sudah pernah melahirkan, punyaku tak akan terasa terlalu menyakitkan.” Rifa’i membujuk.

”Aku melahirkan lewat bedah,” Lisna menjelaskan sambil mengocok cepat rudal Rifa’i, membuat Rifa’i merem melek keenakan dan mencongkel lubang kencing Lisna semakin dalam.

”Aku akan pelan-pelan,” Rifa’i terus membujuk.

”Pokoknya aku takut, jangan malam ini.” Lisna menggeleng, tapi tangannya semakin bersemangat mengocok penis Rifa’i.

”Kau selalu begitu. Aku sudah tak tahan!” balas Rifa’i.

”Biar kuemut saja, seperti biasanya.” tawar Lisna, wajah jelitanya yang masih berbalut jilbab tampak merah merona. Dia lalu turun dari sofa.

Rebahan pasrah, Rifa’i memberikan kontolnya yang gundul pada Lisna. Wanita itu jongkok dan membelai-belainya sebentar, sebelum tanpa ragu, mulut kecilnya terbuka dan langsung melahapnya dengan rakus. Dia terlihat kepahayan saat melakukannya, tapi tetap tidak mau menyerah. Dengan sepenuh hati, Lisna terus menghisap batang coklat panjang itu.

”Ehhhm...” Rifa’i menggelinjang hebat. Dia bertekad untuk tidak sampai ejakulasi di mulut Lisna. Harus malam ini, tekadnya. Setelah tiga kali tidur dengan wanita itu, Rifa’i memang belum pernah mencicipi lubang surgawi Lisna. Dia harus puas hanya dengan petting dan oral saja. Setiap kali Rifa’i meminta, Lisna selalu beralasan, ”Akan kuberikan kalau kita sudah menikah!” dan tentu saja, Rifa’i tidak menginginkan hal itu. Baginya, istri satu-satunya adalah Zia. Lisna cuma obyek pelampiasan nafsunya saja, sama seperti wanita-wanita lain yang pernah diperkenalkan Zia pada dirinya.

Ya, Zia tidak pernah mengetahui kalau cara ta’aruf Rifa’i adalah seperti ini. Tidak cuma berkenalan dan ngobrol biasa, Rifa’i juga meminta setiap calon istrinya untuk mau diajak tidur bareng. Dengan alasan ’tes kesuburan’, para perempuan itu harus bisa memuaskannya di atas ranjang. Dan sampai sejauh ini, Lisna lah yang paling berhasil. Rifa’i sangat berhasrat pada kembaran Zaskia Adya Mecca itu.

”Ah, aku capek, mas.” keluh Lisna setelah berlalu limabelas menit, kontol Rifa’i masih saja mengacung tegak. Bibir Lisna sudah sedikit kelu gara-gara kebanyakan menyedot precum Rifa’i, sementara tangannya sudah pegal mengocok daging panjang itu. Kalau saja ukuran penis Rifa’i biasa-biasa saja, tentu Lisna tidak akan secapek ini. Tapi kelamin Rifa’i memang lain, benar-benar luar biasa. Belum pernah Lisna melihat kontol sebesar ini, begitu panjang, keras, dan agak miring ke kanan seperti menara Pisa. Punya suaminya yang sudah almarhum saja tidak seperti ini.

”Aku masih belum keluar, Sayang.” rengek Rifa’i sambil memijit puncak payudara Lisna, memilin-milin putingnya yang berwarna merah kecoklatan dengan dua jarinya. Sekonyong-konyong, laki-laki itu berdiri dan mengangkat tubuh molek Lisna, lalu digendongnya menuju kamar. Dengan tidak mempedulikan pintu kamar yang masih terbuka, Rifa’i merebahkan tubuh Lisna ke atas ranjang.

”Mas, kau mau apa?” tanya Lisna ragu-ragu.

”Aku menginginkanmu, Lis.” jawab Rifa’i. Tangannya kembali meremas-remas tonjolan daging bulat di dada Lisna.

”Kau mencintaiku?” tanya Lisna lagi.

”Apakah itu yang kau harapkan agar aku bisa mendapatkan vaginamu?” Rifa’i bertanya balik. Dia menciumi puting Lisna yang mencuat indah secara bergantian.

”Aku butuh kejelasan.” Lisna memaksa.

”Aku tidak bisa berjanji, aku masih takut untuk berkomitmen.” Rifa’i mencucup dan menggigitnya berulang kali.

”Kau hanya ingin tubuhku!” tuduh Lisna, mendorong kepala Rifa’i dari atas buah dadanya.

”Tapi kau juga menikmatinya kan?” Rifa’i memandang mata wanita cantik itu.

”Aku tidak serendah itu,” desis Lisna judes.

”Hehe, aku memang lebih tinggi daripada kamu, Sayang.” Rifa’i mengedipkan matanya menggoda.

”Dasar!” Lisna merajuk manja.

”Aku akan jongkok, biar tinggi kita sama.” dan benar saja, Rifa’i mulai menekuk kakinya hingga kepalanya berada tepat di depan selangkangan Lisna. Dihadapannya kini terpampang paha mulus dan vagina licin milik wanita cantik itu. Dengan bulu keriting yang hitam tebal, seonggok daging surgawi itu terlihat begitu menggairahkan. Rifa’i membenamkan mukanya disana.

”Ehsss... mas!” Lisna langsung menggelinjang, kakinya terbuka semakin lebar, sementara tangannya sibuk menjambak rambut panjang Rifa’i.

”Aku jilat ya?” goda Rifa’i.

”Hiyaaaaa...” belum selesai Lisna mengerang, dirasakannya sapuan lembut lidah basah Rifa’i di sela-sela gundukan daging kemaluannya. Lidah itu dengan pasti membelah laut merah miliknya, dan mulai menusuk kesana-kemari begitu cepat. Sementara di atas, tangan Rifa’i bergerak lincah mencari puting susu Lisna dan langsung memencetnya kuat-kuat begitu mendapatkannya.

”Auw, mas!” Lisna menjerit kesakitan. ”Pelan-pelan!” Kedua putingnya terasa kaku dan mengeras, tanda kalau ia juga sudah pengen. Dengan jempol dan telunjuknya, Rifa’i terus memilin dan menjepit daging mungil itu.

”Aku masukkan yah?” pinta Rifa’i sambil menyiapkan penisnya.

”Jangan!” jawab Lisna cepat.

”Kuperkosa saja kalau begitu,” Rifa’i mengedipkan mata.

Lisna melotot, namun tangannya merangkul pinggang Rifa’i. Laki-laki itu agak berdiri sekarang. Rifa’i menarik kaki Lisna sampai kemaluannya pas di depan bibir vagina wanita cantik itu. Tanpa suara, Rifa’i menatap Lisna, berusaha meyakinkannya agar tidak usah takut.

Lisna akhirnya mengangguk, ”Lakukan, mas.” bisiknya lirih.

Tersenyum, Rifa’i mengucapkan terima kasih dan menggenggam batang penisnya, siap-siap diluncurkan ke sasaran; lubang kelamin Lisna yang masih kelihatan mungil dan sempit.

”Pelan-pelan, mas!” lirih Lisna. Meski masih agak takut, namun hatinya sedikit tentram melihat mata elang Rifa’i yang penuh perlindungan.

Rifa’i menarik lagi kaki Lisna. Ujung kelaminnya sudah menempel di liang surga milik sang kekasih, terasa hangat dan licin disana. ”Tahan sedikit,” kata Rifa’i. Sekoyong-konyong, ditariknya pinggang Lisna mendekat. Dan dengan sedikit menekuk lutut, dia menghujamkan penisnya keras-keras ke arah kemaluan wanita cantik itu.

”AAHHHHHH...!!!” Lisna menjerit pilu sambil berusaha memundurkan pantatnya, sementara tangannya bertumpu pada ranjang.

Tapi Rifa’i yang sudah telanjur merasakan sensasi nikmat saat kepala rudalnya menyerodok lubang sempit Lisna, tidak mau melepaskan kesempatan itu begitu saja. ”Iya, tahan, Sayang. Ini baru ujungnya.” bisiknya.

”Ohh... ampun, mas! Sakit!” rintih Lisna ketakutan. Pahanya berusaha menutup. Tapi tentu saja Rifa’i lebih kuat, dia membukanya lagi hingga kedua paha itu kembali terkuak ke sisi ranjang. Dan tanpa membuang waktu, Rifa’i menyodok lagi. Sangat keras. Sambil tangannya menarik pantat bulat Lisna ke arahnya.

Tentu saja perbuatannya itu langsung membuat Lisna menjerit tak karuan.”ADUUUHHH... ADUDUUUUHHHH... AMPUN, MAS! SAKITTT!!!” air mata tampak mengalir di sudut matanya.

Rifa’i menahan nafas, berusaha meresapi saat dinding-dinding kemaluan Lisna yang hangat dan basah membungkus batang penisnya, sepenuhnya. Ehm, sangat nikmat sekali! Terasa sedikit kencang dan berkedut-kedut. Seperti hidup saja layaknya.

Rifa’i merebahkan tubuhnya, menindih tubuh molek sang kekasih. Bertumpu pada siku dan lututnya, ia mendorong badan Lisna agar sedikit bergeser ke tengah ranjang. Dengan alat kelamin yang masih bertaut erat, keduanya berbaring agak ke tengah. Rifa’i menunduk, mencium dan melumat habis bibir Lisna yang terasa manis, memainkan lidahnya di dalam mulut wanita cantik beranak satu itu.

Lisna yang mulai merasakan kenikmatan, pelan-pelan merangkul tubuh gemuk Rifa’i. Rasa sakit yang tadi ia rasakan perlahan menghilang, digantikan oleh rasa geli dan nikmat yang menjalar cepat di sekujur lubang kemaluannya. ”Goyangkan, mas! Aku sudah siap,” pintanya tak lama kemudian.

”Tentu, Sayang.” sedikit menarik penisnya, Rifa’i menggesek pelan lorong kemaluan sang kekasih. Lisna yang tidak ingin kehilangan momen, mengejar dengan menaikkan pantatnya, seakan-akan takut kontol Rifa’i akan lepas meninggalkan lubangnya. Pada saat itulah, dengan sangat keras, Rifa’i menghujamkan penisnya ke bawah.

JLEEBBBB...!!!

”Ahhhhhhh...” Lisna berteriak keenakan.

”Oughhhhh...” Rifa’i yang juga merasa nikmat, mengerang dengan tubuh gemetaran.

Di luar, hujan mulai turun. Suasana semakin dingin di dalam kamar yang tidak ber AC itu. Tapi kedua insan berlainan jenis itu semakin panas saja bergulat mereguk kenikmatan. Keduanya sekarang malah sudah sangat berkeringat.

Punggung Rifa’i yang lebar tampak hampir menutupi seluruh tubuh Lisna yang berbaring pasrah di bawahnya. Jilbabnya sudah terlepas, menampakkan rambut panjang Lisna yang terurai hingga ke punggung. Tangan wanita itu menggelayut manja di bahu Rifa’i, sementara kakinya melingkar ke paha Rifa’i, seakan meminta pada Rifa’i agar memasukinya lebih dalam lagi. Tanpa merasa letih, Rifa’i memberikannya. Ia ayunkan pinggulnya dengan lincah ke selangkangan Lisna yang sudah sangat licin dan becek. Kadang-kadang suara seperti closet mampet muncul akibat gesekan alat kelamin mereka.

Saat itulah, selagi asyiknya-asyiknya mengayuh, tiba-tiba... ”Om, om kok nindih mama?” tanya suara mungil yang berdiri di ambang pintu.

”Dimas?” Lisna dan Rifa’i berkata secara bersamaan. Mereka spontan menghentikan gerakan. Rupanya suara petir membangunkan bocah kecil itu. Dan anak yang ketakutan ini bermaksud mencari ibunya, yang ternyata asyik bersenggama dengan Rifa’i. Dimas memang sudah mengenal Rifa’i, yang suka bawa oleh-oleh setiap kali datang ke rumah.

”Eng... karena mamamu juga takut petir, jadi om peluk.” jawab Rifa’i sambil tersenyum. Di bawah, penisnya masih menancap kokoh di liang kelamin Lisna. Sejenak Rifa’i berpikir, apakah bijaksana mempertontonkan adegan dewasa ini di depan anak berumur lima tahun? Namun nafsunya yang terlanjur menggebu-gebu, mendorongnya untuk terus melampiaskan kenikmatan yang sudah susah payah ia cari selama satu bulan ini. Ketika baru berhasil, tentu saja Rifa’i tidak mau melepasnya begitu saja. Dia harus tetap mendapatkan memek Lisna, janda cantik yang dikasihinya, apapun yang terjadi.

”Ma?” panggil Dimas lagi.

Lisna tersentak. Dia berusaha tersenyum pada sang putra diantara gairahnya. ”Kembalilah ke kamarmu, nanti mama kesana.” katanya berat.

”Dimas takut, Ma.” bocah itu menggeleng.

”Jangan takut, Dimas.” Rifa’i menarik rudalnya sedikit sebelum menghempaskannya dengan nikmat, membuat Lisna yang berusaha menahan gairahnya sekuat tenaga, mendelik tidak suka. ”Kamu boleh tidur disini.” jelas Rifa’i gokil. Dia terus menggoyang pinggulnya maju-mundur. Lisna hanya bisa merintih pelan tanpa tahu harus bagaimana membalas serangan laki-laki itu, sekarang ada Dimas yang berdiri di sampingnya.

Tapi di luar dugaan, ”Dimas bantu yah?” si bocah naik ke atas ranjang dan ikut mendorong-dorong pantat Rifa’i.

”Aih, Dimas!” Lisna ingin melarang, tapi Rifa’i segera membungkam mulutnya dengan ciuman.

Rifa’i tertawa merasakan tangan mungil Dimas menempel di pantatnya. Dengan bantuan bocah itu, Rifa’i terus menghujamkan penisnya, menikmati rapatnya selangkangan Lisna, sang mama. ”Lihat, Dimas. Mamamu suka. Dia pengen diginiin terus.” kata Rifa’i sambil menunjukkan wajah Lisna yang merem melek keenakan pada Dimas.

”Iya, Om. Terus. Dimas juga sayang mama.” kata bocah itu polos.

”Ahh, Dimas.” Lisna melenguh, sangat keberatan dengan apa yang terjadi, tapi tak kuasa untuk menghentikannya. Goyangan Rifa’i lama kelamaan menjadi semakin cepat, juga tak beraturan, membuat Lisna yang kepayahan mulai mengerang pilu. ”Ehss... mas! Ughhhh...” dia meremas payudaranya sendiri, dan memberikan putingnya yang merah merekah pada Rifa’i untuk diemut. Ini tanda kalau orgasme wanita cantik itu sudah semakin mendekat.

Rifa’i yang sudah hafal, sambil mengulum puting Lisna, menggerakkan pinggulnya semakin dalam. Saat dirasakannya cairan Lisna menyembur kencang, ia pun menarik keluar penisnya, tapi tidak sampai lepas, lalu menyorongkannya kembali kuat-kuat.

Crooot... crooott... Rifa’i ejakulasi! Sekitar sepuluh semprotan cairan kental meledak di lorong kemaluan Lisna, si janda cantik yang mirip Zaskia Adya Mecca. Penuh kepuasan, Rifa’i merebahkan diri di atas tubuh Lisna yang molek. Dia tidak berani mencabut penisnya, malu dilihat oleh Dimas.

”Om, itunya bocor.” teriak Dimas tiba-tiba, tangannya menunjuk kelamin Lisna dan Rifa’i yang masih bertaut.

Rifa’i mahfum, pasti spermanya ada yang merembes keluar. Biasanya begitu sih. Dengan enggan, terpaksa Rifa’i menarik keluar penisnya. Diperhatikannya lubang vagina Lisna yang kini sudah bonyok dan basah. Penis Rifa’i sendiri terlihat sudah agak lemas, menggantung pasrah diantara kedua paha laki-laki itu.

”Ih, Om jorok!” Dimas bergidik melihat rudal Rifa’i yang berleleran sperma dan masih menetes-netes.

Lisna cepat bangkit dan mencari pakaian di lemari, dapat sebuah daster kebesaran, tak apalah. Segera dikenakannya untuk menutupi tubuh sintalnya yang telanjang. Saat berbalik, didapatinya Rifa’i masih telanjang bulat. Penisnya sudah tegang lagi karena asyik dipermainkan oleh Dimas.

”Burung Om besar ya?” kata bocah itu.

”Punya Dimas nanti kalau sudah besar juga besar kok.” sahut Rifa’i.

Buru-buru Lisna mengambil putranya dan membawanya pergi ke kamar sebelah. ”Sekarang Dimas tidur ya,” katanya sebelum menutup pintu, matanya mendelik pada Rifa’i.

Rifa’i cuma tertawa saja menanggapinya.

***

Gerimis masih mengguyur sepanjang perjalanan pulang Rifa’i. Di pos kamling, para peronda sudah pada bubar. Suasana sepi dan dingin. Memang lebih enak menghabiskan waktu di rumah bersama istri daripada dikerubuti nyamuk di pos ronda. Rifa’i memasukkan motornya ke garasi dan mengunci pintu pagar depan. Setelah mengeringkan tubuhnya yang basah, ia menghampiri Zia dan berbaring di sebelahnya. Dikecupnya pipi perempuan yang sudah mendampinginya selama sebelas tahun itu. Zia sedikit membuka matanya, bergumam entah apa, dan kembali terlelap. Rifa’i ikut memejamkan mata. Kelelahan setelah bermain dua ronde dengan Lisna membuat dia terlelap tak lama kemudian.

***

Minggu berikutnya, hari Rabu pagi, Zia berdandan ekstra keren. Hari ini adalah peringatan sebelas tahun pernikahannya. Dia ingin memberikan kejutan pada Rifa’i. Dipakainya jilbab merah menyala biar matching dengan warna motornya. Juga ikat pinggang warna serupa. Sendal yang belum lama ia beli, tak ketinggalan dipakai. Zia hari ini ingin tampil sempurna di hadapan Rifa’i yang sudah sejak tadi berangkat ke kantor. Katanya ada rapat pagi-pagi. Ah, dasar Rifa’i.

Dengan perasaan meluap-luap, Zia menstarter motornya. Dia harus mampir ke toko kue dulu, mengambil kue tart besar yang sudah ia pesan dari kemarin. Baru setelah itu ia akan pergi ke kantor suaminya, mengejutkan Rifa’i dengan merayakan ultah pernikahan mereka disana. Tapi di tengah perjalanan, Zia tergerak untuk mampir sebentar ke sebuah pusat perbelanjaan terkenal. ”Aku lupa membelikan kado buat Rifa’i.” kata Zia pada dirinya sendiri.

Langkah wanita itu ringan memasuki mall yang luas dan megah itu. Dia bergerak cepat menuju area lelaki, mencari sebuah dasi biru tua yang sudah lama diidam-idamkan oleh Rifa’i. Setelah mendapatkannya, meski harganya cukup mahal, Zia melangkah pelan ke arah kasir. Saat itulah, pandangannya terpaku. Dikerjapkannya mata berkali-kali hingga maskara-nya belepotan. Tidak. ia tak salah lihat. Di depan sana...

Uh, kedua lutut Zia mulai gemetar, apalagi saat mendengar suara tawa laki-laki itu. Di benaknya terbayang percakapan seminggu yang lalu. Baru saja Zia merasa menjadi wanita yang paling bahagia, tapi kini...

Perempuan berjilbab merah itu merasa gemetar di lututnya menjadi semakin keras. Lalu perasaan dingin merayapi tubuh sintalnya. Perlahan pandangannya menggelap. Suara gedebuk keras pun terdengar saat tubuh Zia terjatuh, mengagetkan pasangan yang sedang berangkulan mesra di depan kasir. Lisna dan Rifa’i.

END

Cerita seks Babby Margaretha xxx



Baby Margaretha, model seksi tanah air, namanya kini semakin
terkenal, ia juga pernah muncul di film horror lokal Pocong Mandi Goyang
Pinggul bersama artis porno Sasha Grey. Muda, cantik, dan memilki tubuh
seksi yang menggoda. Pose-pose sensual Baby telah banyak menghiasi
majalah-majalah dewasa membuat setiap orang terutama pria menelan ludah
melihatnya. Meskipun Baby memiliki body yang aduhai dan senyuman yang
menggoda, Baby bukanlah orang yang sombong. Kadang tak segan ia menolong
orang yang ia temui atau mengucapkan "terima kasih" pada yang
membantunya, Untuk kasus yang terakhir, ada seorang pria beruntung yang
pernah menerima ungkapan terima kasih ‘spesial’ darinya

.

-----------------------------------------

Introduction



Alkisah
Parjo atau yang biasa dipanggil Jo, seorang pemuda yang sudah mendekati
kepala tiga umurnya, meninggalkan kampungnya untuk mengadu nasib di
Ibukota. Malang karena tak ada koneksi, bekerja serabutanlah ia mulai
dari menjadi kuli hingga tukang kebun. Namun Jo bukanlah orang yang
mudah menyerah, ia percaya bahwa semangat, mau belajar, dan jujur pasti
akan membawanya sukses (yang terakhir perasaan dah pada jarang deh ^^i).
Tidak sia-sia, berkat keuletannya, ia diminta salah seorang temannya
untuk bekerja di studio photo bos temannya di Jakarta. Yah... meskipun
kerjaannya juga tidak jauh-jauh dari fisik namun setidaknya gaji yang
dia peroleh lebih baik dan cukup untuk dia bagi dengan keluarganya di
kampung. Suatu pagi Jo sudah berangkat menuju studio tempat ia bekerja.
Pagi ini Pak Rudi, bosnya, meminta ia untuk membantu beliau menyeting
studio dan membersihkannya. Pak Rudi mengatakan bahwa nanti sore beliau
mau mengadakan pemotretan beberapa model hingga malam.

"Jooo....
bersihkan ruangannya segera, itu kabel kau gulung yang rapi, yang tak
kepake kau simpanlah di gudang sana. Setelah itu kau atur sofanya
seperti yang aku bilang tadi, ingat Jo.... hati-hati itu barang mahal,
terserah kau garap kapan, pkoknya nanti malam harus sudah siap!" teriak
bosnya.

"Siap Pak!" Jo menyahut.

"Kau sekarang ikut aku ke taman kau angkut peralatan di lemari nomor tiga. E itu rumput sudah kau rapikan kemarin?"

"Sudah Pak!" Jo menyahut.

"Bagus, sekarang cepat kau ambil perlatannya, setengah jam lagi mereka datang."

Yah
itulah bos si Parjo, yang memang agak galak, dan mau seba cepat. Hampir
tidak ada asisten yang betah bersamanya. Namun Parji dengan kesabaran
dan keuletannya mampu bertahan. Untunglah Pak Rudy bukanlah orang yang
pelit. Tak jarang, ketika beliau senang dengan pekerjaan Parjo, beliau
mengajak makan Parjo di restoran mewah, atau memberinya uang rokok
berlebih. Namun buah kesabaran dan kejujuran Parjo belumlah pada
puncaknya. Namun hari ini adalah permulaannya. Ya, pagi itu, studio
tersebut sangat ramai. Banyak proyek yang harus dikerjakan. Model-model
baik pria maupun wanita datang silih berganti. Hingga menjelang jam 9
malam ketika sesi pemotretan terakhir.Om Rudy... mav
Baby telat om. Agak Macet di jalan. Ngomong-ngomong tidak bisa besok ya
om??" tanya seorang wanita cantik dan seksi.

"Selamat malam baby.
Om tidak bisa, deadline sudah dua hari lagi, besok om ada jadwal lain,
dan masih harus mengedit hasilnya, ngomong-ngomong sendiri kau datang
kemari? Mana supir kau?" tanya Om Rudy.

"Pak Supri sedang pulang kampung anaknya sakit, besok siang baru pulang, makanya Baby minta besok om" jawab Baby.

"Siapakah
cewek itu?" Jo bertanya dalam hati, matanya melihat gadis itu dari
ujung kaki hingga ujung kepala. "bukan main sexynya" pikirnya.

Ya saat itu Baby Margaretha menggunakan rok dia atas lutut dengan tanktop dipadu dengan jaket jeans biru, so sexy.

"Parjooo.... sini kau bantu saya kerja!" tiba-tiba bosnya berteriak membuyarkan lamunannya.

Si...siap Pak..!"

Setelah sesi pemotretan tersebut usai, Baby Margaretha membereskan tasnya hendak pulang ke apartemennya.

"Baby, lebih baik kamu menginap di rumah om saja, nanti om bilang sama istri om, tidak baik pulang malam-malam" kata om Rudy.

"Tidak apa-apa om, Baby sudah biasa, Baby sudah tahu mana rute yang aman, om" jawabnya.

"Yakin kau tak mau menginap?"

"Iya om tidak apa-apa."

Akhirnya Baby memacu kendaraannya. (dering ringtone HP),

"Wah
hape Baby ketinggalan, kebetulan rumahnya dekat kos kau Jo, kau
antarkan ke sana ya, Rumahnya di Perumahan xxxxxx no xx kau tahu kan?"

"Tau
bos, kos saya tidak jauh dari situ" jawab Jo. Malam itu ia pun segera
memacu motor lamanya, untuk mempersingkat waktu, ia menerabas
jalan-jalan kampung.

-------------------------------

The Mistake



"Uh sial, kena paku lagi, mana malam-malam begini" keluh Baby Margaretha

Ban mobilnya tertusuk paku sangat dalam. Membuatnya harus terhenti.

"Duh coba gue tadi nginep aja" keluhnya.

Sebenarnya
Baby belumlah terlalu hapal rute yang aman, dia hanya melalui rute
singkat menghindari tol, sebab dia sering menyuruh supirnya pada siang
hari untuk melakukan itu supaya ia bisa cepat mencapai studio tempat ia
melakukan sesi foto atau ketika ia pulang agar cepat sampai. Celakanya,
menjelang tengah malam, kawasan itu biasanya rawan. sudah banyak
penodongan terjadi di sana. Ia kini menyesal mengapa ia tidak mengiyakan
tawaran om Rudy untuk menginap di rumahnya. Dalam kebingungan Baby
melihat-lihat apakah ada orang yang dapap dimintai pertolongan.
Tiba-tiba datanglah beberapa orang bertampang preman. Yang Pertama si
Gendut Bruno. Bruno sebetulnya tidaklah terlalu gendut. Perawakannya
tinggi besar. Satunya lagi si kurus Tomi. Kulitnya gelap dengan rambut
jarang-jarang. Mereka berdua termasuk preman di daerah tersebut. Tak
jarang mereka mencegat kendaraan yang lewat malam hari untuk sekedar
memalak korban-korban mereka. Melihat korban mereka kali ini adalah
seorang gadis muda cantik nan seksi, mereka mengubah pikiran mereka
untuk tak sekedar memalaknya.

"Hehehe... sayang ki, kalo cuman dipalak, dah lama gak liat awewe hot euy" kata si gendut.

"Ah ko bisa saja bro, benar, mending kita garap dia dulu hahaha...." timpal si kurus. Mereka pun mendekati Baby yang malang.

"Oh
my god, siapa mereka? Jangan-jangan...." Baby merasa tidak enak dalam
hati melihat kedatangan para pria bertampang tidak bersahabat itu.

"Hahaha.... Sendirian aje nih Neng Cantik?" sapa si gendut tiba-tiba membuat Baby kaget setengah mati.

"Aduh... gawat..." katanya dalam hati.

"Kenapa Neng? Ban bocor ya? Kasihan.... sini abang bantuin pompain bannya Neng hehehe..." timpal si kurus cekikikan.

"Eh... enggak bang makasih" kata Baby dengan senyum dipaksa walau mengetahui dirinya dalam bahaya.

"Ah Jangan gitu non, kita mau kok bantuin Non, asal..." kekeh si gendut sambil melirik si kurus.

"Asal non bantuin kita-kita juga hahaha...." tawa si kurus sambil dengan tiba-tiba ia memegang payudara Baby.

"Hei...jangan kurang ajar kalian!” bentak Baby Margaretha seraya menutupi dadanya dengan kedua tangannya.

"Uih.. kenyal cuy, kencang nian body nih cewek huahahaha..." sahut si kurus terkekeh.



Mereka pun kemudian melingkari Baby mengepungnya. Tiba-tiba "plak" tangan si gendut menampar dan memainkan pantat Baby

"TOLOOONNGG!!" teriak Baby dengan panik.

"Hahaha... teriak aja Non, nggak bakal ada yang ngedengerin, rumah orang-rang pada jauh dari sini" ejek si gendut.

"TOLOOONNGG....." Baby kembali berteriak sambil merangsek ke depan berusaha kabur.

Namun
si gendut yang sudah menduga gerakannya, segera menangkap dan membekap
mulutnya dari belakang sehingga Baby tidak dapat bergerak dan berteriak.

"Mmmpphh.... Mmpphh..." Baby kini hanya bisa menggumam.

"hihihi...ayo manis, kita main-main sebentar, nanti baru ban nya kita betulin!" tawa si kurus.

Belum
lama mereka merasa senang karena sebentar lagi akan segera menikmati
santapan lezatnya ini, tiba-tiba ada sebuah motor yang menabrak si kurus
dari belakang.

"Hwaduuhhh.....heh siapa itu!!" segera si gendut melepaskan bekapannya dan memburu si penabrak.

"EH SINI LOE ANJING!" makinya.

Namun
kali ini lawan si gendut betul-betul gesit. Dia bergerak kesana kemari
bagaikan kancil sehingga serangan si gendut hanya menyapu angin saja.
Tiba-tiba sebuah tendangan ke arah anunya si gendut melayang telak

"HWADOOOHHHH!!" si gendut meringis dan segera disusul sebuah pukulan ke arah dagu yang membuatnya pingsan.

Sementara
itu si kurus yang baru saja bangun dan terpincang segera akan mengambil
langkah seribu sebelum tiba-tiba kepalanya terbentur helm motor yang
diayunkan oleh Baby dan mereka berduapun pingsan.

"Wah non, bahaya
pulang malam sendirian, harusnya non tadi nginep aja non" kata si
penolong yang ternyata adalah si Parjo alias Jo.

"Joooo...." Kata Baby Margaretha sambil berlari dan memeluk Jo.

Merasakan
dekapan cewek cantik aduhai apalagi kini Baby juga menekankan
payudaranya pada Jo tentu bakalan membuat si otong lelaki manapun tegak
berdiri.

"Aduh iya non, aduh mav say jadi sulit napas non, aduh" kata Jo Jaim.

"Aih... makasih Jo kalau tidak kamu saya sudah..." kata Baby lagi.

"Udah non gak apa-apa, yang penting non selamat. Ada talii??" tanya Jo.

"Ada Jo tapi ban mobilku mogok" kata Baby.

"Nggak
apa-apa non, yang penting kita tali mereka dulu di pohon itu,
sebelumnya kita bugilin dulu mereka, baru aman saya menggantikan ban
mobil non" usul Jo.

Segera mereka berdua mengerjai kedua preman
tersebut. lalu Jo segera mengganti ban mobil Baby cepat-cepat sebelum
mereka sadar. Untuk berjaga-jaga Jo pun mengawal Baby Margaretha pulang
ke rumahnya.

------------------------------------

Rumah Baby



"Ya di sini Jo, terima kasih ya... ayo sini masuk dulu, Jo!" kata Baby manis.

Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah Baby dengan aman.

"Aduh
non makasih, udah malam gak enak sama tetangga, ini saya sebenarnya mo
nyusulin hapenya Non yang ketinggalan." kata Jo segera membuka tasnya
dan menyerahkan hp tersebut.

"Aduh Jo benar ini hape saya, aduh.... Jo Makasih ya, ya udah sebentar ya." Baby pun mengambil dompet di tasnya.

"Nggak
Non, gak usah, saya ikhlas kok benar, saya pikir hp ini kan barang
pentingnya non Baby, kalo sampai ilang, pasti non Baby bakalan
kesulitan." kata Jo tambah jaim.

Melihat ketulusan hati Jo, Baby
pun merasa kasihan padanya. Bahkan uang yang akan diberikannya bahkan
ditolak. Tiba-tiba muncullah sebuah ide nakal di pikirannya.

"Yah...
Jo ijinin baby berterima kasih dong.... Paling enggak masuk dulu dong,
sini Baby buatin minum ama sandwich yah? jangan nolak loh, kalo enggak
Baby nangis nih" rayunya.

"Duh jangan nangis non, jadi nggak tega Jo, iya deh non, Jo masuk, sebentar aja ya" katanya tak dapat mengelak.

Di
dalam merekapun duduk bersama di sofa ruang tengah menikmati sandwich
dan sirup dingin yang Baby buat. Namun tanpa sepengetahuan Parjo, Baby
telah memasukkan obat kuat ke dalam minumannya.

"Jadi asalmu dari kampung Jo?" tanya Baby.

"Iya
non, abis saya sumpek di kampung, gak ada kerjaan, daripada nganggur,
saya mencoba ngadu nasib di Jakarta, siapa tau berhasil, tapi ya gini
sih non, saya syukurin aja apa yang saya dapat sekarang." jawab Parjo.

"Udah berapa tahun kamu di Jakarta Jo?" tanya Baby.

"Sudah lima tahun lebih sih non." seraya menghitung dengan jarinya.

"Oh... la keluarga kamu gimana Jo? Apa kamu gak kangen?" tanya Baby lagi.



"Kangen
sih Non, paling saya pulang setahun sekali pas libur panjang. Kalaupun
saya bawa mereka ke Jakarta, kasihan Non, di sini apa-apa mahal dan
macet, takutnya gak pada betah Non." keluh Parjo.

"Wah hebat kamu
Jo, kamu orang yang baik ya. Jarang saya bertemu laki-laki sepertimu."
puji Baby dan memandang mata Jo dengan nakal. "Beruntung ya, cewek yang
dekat denganmu."

"Ah.. saya nggak punya pacar non, mana ada yang mau sama cowok jelek macam saya non." kata Jo malu-malu.

"Masak sih Jo, kamu cakep kok di dalam sana" rayu Baby

"Ah non Baby bisa saja" kata Jo tersipu malu.



Tiba-tiba
Baby Margaretha berpindah tempat duduk mendekati Jo. Kedua kaki
seksinya ia taruh di sofa seraya memandang Jo nakal. Pria mana yang
tidak bakalan tergoda yang melihat cewek seksi dengan celana jins super
pendek seolah seperti CD dan tanktop ketat yang menunjukkan lekuk tubuh
serta belahan dada seorang Baby Margaretha. Ditambah dengan tatapan
nakal Baby, membuat Jo agak klepek-klepek.

"Jo, Baby gak bohong kok, Jo cakep deh" rayu Baby lagi.

Kini Jo hanya terdiam, ada sedikit di celananya. Baby pun melanjutkan rayuannya

"Jo, mau gak Jo jadi pacar Baby malem ini aja? Paling gak, Baby beneran mau balas budi buat Jo. Mau yah Jo..."

Melihat
sikon yang mulai mengundang Jo pun sadar, dia sebenarnya juga tergoda
oleh rayuan Baby Margaretha. Bagaimanapun, Jo adalah seorang pria dan
tidak ada satupun pria waras yang tidak akan tergoda oleh body seksi
Baby Margaretha barang sedikitpun. Ia juga paham, dia sebetulnya
bukanlah pria yang betul-betul alim. Karena pergaulan juga, dia akhirnya
pernah merasakan surga dunia walaupun membayar. Kebetulan waktu menjadi
kuli, banyak teman-temannya berasal dari perantauan. Tak jarang bagi
mereka yang telah beristri merindukan kehangatan tersebut. Dan tak
jarang pula mereka mengajak Jo. Awalnya karena gengsi dan tidak ingin
dianggap cupu, dia mengikuti teman-temannya. Namun ia belakangan agak
ketagihan kala birahinya memuncak. Hanya saja pekerjaan yang sibuk dan
berat belakangan rupanya mampu mengontrol nafsu Jo. Namun ia masih ingat
kalau Baby adalah klien penting bosnya. Jo tidak mau perbuatannya nanti
menjadi masalah di kemudian hari. Dengan jaim dia berkata,

"Aduh Non, beneran Jo Ikhlas, aduh Non... mending jangan deh, Jo gak enak sama non dan pak Bos."

Baby pun tertawa mendengar Jo berkilah, ia berkata dalam hati, "Huh, jaim-jaim ngaceng juga kamu."

Baby pun kembali menggodanya "Jo, kalau kamu ikhlas, kenapa dedekmu nggak sih" seraya mengelus tonjolan di celana Jo.

Jo
pun kaget setengah mati, jantungnya hampir copot. Benar apa yang
dikatakan Baby, ternyata si otong nggak ikhlas. Di balik persembunyian
si otong seolah berteriak-teriak minta jatah untuk beraksi.



Melihat
Jo hanya terdiam, Baby pun kembali merangsang Jo. Kali ini tangan
kirinya merangkul Jo, buah dadanya yang montok dan berisi ia tempelkan
ke dada bidang Jo dari samping, sementara itu tangan kanannya masih
mengelus-elus tonjolan di celana Jo. Kali ini Jo sudah tidak dapat
menolak. Entah karena birahinya kembali memuncak tak terbendung atau
dengan pengaruh viagra yang tanpa sadar ia minum tadi, kini, Jo mulai
larut dalam permainan. Namun perasaan jaim masih tersisa di pikirannya,

"Non, bener saya tidak enak non sama non dan pak Bos, kalau ada yang tahu gawat non, bisa dipecat saya" rengek Jo.

"Ah
Jo.... santai aja kali, rumahku sedang sepi kok supirku sedang pulang
kampung dan pembatuku baru besok siang balik sini. Santai aja Jo kita
aman kok, gak ada yang ngintipin, asal...." rayu Baby lagi.

"Asal apa non?" tanya Jo.

"Asal
kamu gak nolak dan jangan bilang ini ke siapa-siapa yah, hanya untuk
kita berdua aja yah Jo." jawab Baby. Mendapat lampu hijau seperti itu,
Jo menjadi tidak ragu-ragu lagi.

"Siap non hehehe..." Jawab Jo bersemangat. "Idihh... tadi malu-malu jaim, sekarang nafsu nih ye" ledek baby dengan tertawa

Jo
tida membalas. Mereka hanya bertatapan kemudian Jo memulai inisiatif
dengan melumat bibir Baby Margaretha terlebih dahulu. Tangannya segera
meremas-remas payudara Baby dengan lembut. Beberapa menit bibir mereka
bertemu dan berpagutan. Lidah Jo dengan aktif menggelitik rongga mulut
Baby.

"Jo kamu udah pernah ya?" tanya Baby kemudian melepas ciuman mereka. "

Hhhh.... sudah non, dulu pas jadi kuli, tapi ya cuman jajan biasa non." jawab Jo sambil mengambil napas.

"Hmm... jadi beneran belum pernah ama pacar ya Jo?" tanya Baby lagi.

"Belum, emang kenapa?" tanya Jo.

"Gak
apa-apa, sini, baby contohin. Idih... jangan di monyongin dong Jo
hahaha..." Baby tertawa melihat ulah Jo. "Sini Jo deketin wajahmu"

Jo
pun mendekatkan wajahnya. Kali ini, giliran Baby Margaretha yang
melumat bibir Jo. Pertama, dipegangnya dagu Jo, kemudian
dikecup-kecupnya bibir Jo dengan lembut menghisapnya perlahan dan
pelan-pelan Baby memainkan lidahnya. Baby memainkannya dengan baik
seolah mengajak lidah Jo bergulat serta membuat bibir Jo hangat seolah
dipeluk membuat Jo bak di atas awan.



"Gitu Jo, sekarang giliranmu ayo!" ujar Baby, kini baby bahkan memosisikan duduknya sehingga ia kini dipangku oleh Jo.

Jo
pun melakukan apa yang dicontohkan oleh Baby. Dipandangya gadis molek
itu, kemudian dikecupnya lembut bibir Baby seolah memeluknya, kemudian,
ia teruskan dengan memainkan lidahnya perlahan seolah mengajak lidah
Baby berpagutan. Baby kemudian menaruh kedua tangan Jo di payudara dan
pahanya, kemudian ia meminta Jo untuk melakukannya lagi. Dengan lembut
tangan Jo membelai-belai payudara dan paha foto model seksi itu.
Kemudian ia selipkan tangannya dibalik tanktop ketat dan hotpants Baby,
mencari-cari putingnya di balik cup penutupnya kemudian memijitnya
lembut dan nakal. Gairah mereka berdua kini telah memuncak. Baby dan Jo
saling melepaskan baju mereka. Jo masih menyosor dengan ciuman-ciuman
nakalnya pada bibir Baby sementara kedua tangannya bergerilya
membelai-belai tubuh seksi Baby Margaretha. Baby kemudian mengajak Jo
masuk ke kamarnya. Ia kemudian mendorong tubuh Jo bersandar di
ranjangnya, kemudian Baby mengkecup-kecup puting Jo, memainkan dengan
lidahnya dan tangan lembutnya kini mengarah ke batang kejantanan Jo,
membelainya dan memijitnya dengan hangat. Baby sangatlah pintar
memainkan lidah nakalnya. Diputar-putar lidahnya mengelilingi puting Jo
dan digigit-gigitnya kecil seolah itu permen mint bagi Baby, sementara
tangannya membelai kejantanan jo dengan berirama. Permainan Baby pun
membuat Jo terangsang setengah mati. Ia pun juga tak mau kalah, kini ia
memilin-milin dan memijat puting Baby membuatnya mendesah tak keruan,
Kesempatan itu tak disia-siakan, Jo segera melumat payudara Baby yang
montok itu. Diciuminya dengan lembut dan menggigiti puting Baby membuat
Baby mendesah-desah. Tak lupa Joko kombinasikan dengan sapuan lidahnya
seperti yang dicontohkan oleh Baby tadi. Jo menaruh tangannya pada
vagina Baby, mencari-cari klitoris Baby dan memainkannya,

"Auw... pelan-pelan dong Jo, pelan, kayak kamu mijitin putingku tadi Jo" rayu Baby nakal.

Jo
pun menurutinya. Kini sambil memainkan puting Baby, Jo memijit-mijit
klitoris Baby dengan lembut membuat Baby mendesah-desah tak karuan dan
menggigit bibirnya. Sesekali Jo mencelupkan jari-jarinya ke dalam vagina
Baby, mengoreknya perlahan seolah tidak ingin kehilangan setiap jengkal
cairan madu dalam vagina Baby. Tiba-tiba ia menemukan suatu
tonjolan-tonjolan kasar dan menekannya.

"Aaahhhhh..... terus Jo, di situ teeerruuusss....." desah Baby mengeliat-geliat. Jo pun makin bersemangat melakukannya.



"Ohh....
ohhh,,, Jooo... Aku keluarr....." desah Baby mencapai orgasmenya
diiringi lendir kewanitaan yang mengalir deras dari vaginanya.

Jo
pun segera menyeruputnya dengan lahap. Lidah Jo seolah menyeka seluruh
belahan vagina baby tanpa menyisakan cairan lendir sedikitpun. Baby pun
mengambil nafas sementara Jo masih sibuk menyeka vaginanya.

"Jo sini dong tiduran sebelah Baby..." rayu Baby.

Jo pun menurut. Kini baby memposisikan dirinya di atas Jo sehingga lebih leluasa melihat penis pria itu.

"Jo
punyamu besar juga ya" kata Baby sambil sibuk membelai kejantanan Jo,
menjilatinya memutar, memainkan lubang kencing Jo dengan lidahnya yang
nakal, dan mengulum-kulum penis tersebut.

Dalam Hatinya surprise
juga Baby melihat penis Jo berukuran hampir sepusarnya dengan diameter 4
cm. Namun membayangkan ukuran penis yang akan menggarapnya mebuat Baby
makin bersemangat.

"Ohhh..... terussss Non... Ssspppp.... ohhhh.... enak non, terus" racau Jo tidak karuan.

Baby
pun kini menjepit penis Jo dengan payudaranya yang montok. Ia menaik
turunkan payudaranya. sembari mulutnya masih mengulum penis Jo.

"Ohhhhh.... " lenguh Jo panjang.

Tak urung isapan mulut seksi Baby ditambah jepitan Payudara Baby membuat kelabakan setengah mati. Pertahanan Jo akhirnya jebol,

"Uh... non... Jo mau keluar non, lepas dulu non!"

Namun Baby tidak memperdulikan ucapan Jo dan terus menghisap penisnya hingga akhirnya Jo ejakulasi dalam mulut Baby.

"Uhhh....
Ohh....." "crot...crot....crot..." lebih dari lima kali penis Jo
berkedut, namun Baby Margaretha masih belum melepaskan isapannya dari
penis Jo, seolah tidak ingin melewatkan setetespun sperma yang keluar
dari penis Jo. Cairan putih itu dilahapnya dengan rakus. Jo hanya bisa
mendesah keenakan

"Ahhh..... Non Babyy...."

Baby Maragaretha
pun menyelesaikan isapannya dengan sebuah kecupan kecil pada lubang
kencing Jo. Lalu ia menjulurkan lidah menunjukkan sisa sperma yang dia
tampung di mulutnya pada Jo, kemudian menelannya habis. Pemandangan
nakal itu membuat Jo takjub.



Baby Margaretha kemudian
meminta Jo untuk mengambilkan segelas air dingin dari lemari es di pojok
kamar. Ia lalu meneguk air minum tersebut.

"Uih... seger Jo..." kata Baby Manja.

"Non, apa gak jijik nelen peju? Emang rasanya enak ya Non" tanya Jo keheranan.

"Habis pejumu enak sih Jo" kata Baby terkikik. "gurih lagi" godanya.

"Eh apa iya non " kata Jo polos tidak percaya.

"Enggak segitunya kali Jo, tapi enak kok hahaha..." tawa baby.

Dalam
hati Baby berpikir ternyata sangar-sangar gini Jo culun dan
menyenangkannya, tidak seperti para pria yang pernah membookingnya yang
hanya sekedar menginginkan sex darinya. Baby berpikir andai Jo mau
menjadi budak seksnya pastilah asyik. Jo kini memulai inisatif,
dibelainya lembut tubuh Baby Maragaretha dan diciumnya dengan lembut.

"Tadi malu-malu kucing, sekarang nagih ya Jo?" goda Baby nakal.

Jo
hanya tersenyum dan kembali menggarap tubuh seksi Baby. Tak beberapa
lama, penis Jo kembali menegang dan kini ia pun siap. Ia memposisikan
dirinya di bawah dan Baby di atas. Baby pun tanggap dan segera
membimbing penis Jo masuk ke dalam liang vaginanya. Perlahan-lahan Baby
menurunkan pinggulnya, namun penis Jo memang besar. belum sampai
tertelan semua, Baby merasakan sesuatu menyeruak di pintu rahimnya.
Ternyata penis Jo Mentok di vaginanya.

"Uuuhh...gedenya, memek gua ampe penuh" gumam Baby dalam hati.

Baby
mendiamkan dulu vaginanya menancap mencoba beradaptasi dengan penis Jo.
Tak lama kemudian ia baru mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan.
Perlahan pula rasa perih dan sesak di vaginanya berkurang dan mulai
tergantikan rasa nikmat. Baby menaik turunkan pinggulnya dipadu dengan
gerakan maju mundur dan memutar. Terkadang Parjo menggodanya dengan
mengangkat pinggulnya supaya penisnya masuk lebih dalam.

"Ahhh..... Ohhhh..... SSss... JJoooo..... Enak, Jo" ceracau Baby Margaretha.

Baby
tambah mendesah-desah ketika tangan Parjo dengan usil menggerayangi
payudaranya. Memijit-mijit puting dan membelai kedua buah dada dengan
lembut.

"Iisseeeppp Jooo.... Ahhh.... Sshhh...." desah Baby meminta Parjo menghisap payudaranya.



Parjopun
kini duduk memangku Baby dan menariknya mendekat padanya supaya ia
dapat menyusu pada payudara montok itu. Baby pun melanjutkan genjotannya
naik turun. 10 menit kemudian Parjo meminta Baby nungging namun ia
tidak langsung memasukkan penisnya. Ia gerayangi payudara Baby dan ia
tusuk-tusuk vaginanya dengan kedua jarinya membuat Baby tak tahan,

"Engghh.... Jo masukinnn...." pintanya lirih

Maka
dengan satu sentakan medadak Parjo menusukkan penisnya pada liang
vagina Baby. Membuat tubuh Baby melengkung ke atas disertai lenguhan
nikmat. Kesempatan itu tak disia-siakan Parjo. Kepalanya meyusup
melewati bawah ketiak Baby dan menyusu pada payudara Baby. Parjo sungguh
membuat Baby kewalahan, penis Parjo menusuk dengan berirama. Sebentar
lambat lalu tiba-tiba disusul dengan tusukan cepat penis Parjo hingga
mentok ke mencapai pintu rahim Baby. Ditambah dengan isapan-isapan nakal
pada puting payudara Baby sesekali disertai gigitan lembut. Serangan
bertubi-tubi Parjo membuat Baby kewalahan. Tak berselang lama Baby
melenguh panjang. Mulut seksinya membentuk huruf O dan punggungnya
melenting ke belakang menandakan oragasmenya telah datang. Cairan cinta
Baby mengalir deras dari sela-sela liang vaginanya. Namun Parjo tidak
menghentikan tusukan-tusukan penisnya pada vagina Baby sehingga
orgasmenya datang bergelombang. Hal ini tentu membuat Baby melenguh
panjang. Bibir parjo kini berpindah dari payudara Baby menuju bibirnya,
Mereka berciuman dengan penuh gairah. Kini Parjo membuat Baby tiduran
terlentang. Membuat Parjo lebih mudah melancarkan serangan-serangannya.
Ia langsung menaikan kecepatan. Baik tangan kanan dan kiri tak luput
membelai dan meremas-remas payudara seksi Baby. Bibir Parjo juga
bergerilya dari satu puting ke bibir seksi Baby. Baby segera memperoleh
orgasme kedua. Tubuhnya melenting ke atas namun tertahan oleh tindihan
Parjo. Sementara itu kedua tangan Parjo meremas kedua payudaranya dan
keduanya saling berciuman. Rupanya Baby menikmati kondisi dimana Baby
seolah sedang diperkosa Parjo. Ia memeluk Parjo dan ia kaitkan kedua
kakinya pada pinggul Parjo. Baby sekali lagi mendapatkan multi orgasme.
Kali ini Parjo makin mempercepat tusukannya. Baby kelabakan menerima
gempuran itu hingga akhirnya ia mendapatkan orgasme keempatnya.

"Hekh....heh.... Non. Jo mau keluar non, Jo keluarin di luar ya non" kata Parjo takut membuat Baby hamil.

Namun
Baby justru mengaitkan lagi kakinya pada pinggul Parjo dan memeluknya
serta menciumnya dengan ganas. Membuat tekanan pada penis Parjo
berlipat. Penis Parjo seolah dipijit-pijit dari segala arah plus telah
mentok pada mulut rahim Baby seolah penis Parjo sedang menciumi pintu
rahimnya. Membuat Parjo segera menyemburkan spermanya dengan deras pada
rahim Baby.

"Crott....Crroott....Crroott..." penis Parjo berkedut-kedut mengeluarkan isinya mengisi rahim Baby.

Setelah melalui gelombang orgasmenya, Parjo pun ambruk menindih Baby. Penisnya masih menancap pada liang vagina Baby.



"Hhh.... Non, gak papa di dalem? Kalo non hamil gimana?" tanya Parjo resah.

"Kalo gue hamil, Jo tanggung jawab yah" goda Baby nakal.

"ehh...kok?" Parjo panik.

"Hahaha....
gak apa-apa Jo, baby selalu minum pil anti hamil kok, santai aja.
Lagian lebih enak kalo dilepasin di dalem Jo, lebih dalem sensasinya"
jelas Baby.

“Fuhh….” Jo pun menarik napas lega karena Baby hanya bercanda.

Kini
mereka berdua bangkit dari ranjang, Baby segera menarik lengan Jo
menuju kamar mandi. Kamar Mandi Baby tidaklah terlalu besar, namun ada
bathub dan shower di dalamnya. Di dalam kamar mandi, Baby dan Parjo
saling semprot dengan shower. Hampir seluruh tubuh Baby Parjo semprot,
apalagi vagina Baby yang merah dan ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus
membuatnya kegelian.

“Hahaha…. Geli Jo…. Geli….” tawa Baby manja.

Kini
giliran Baby mengerjai Parjo. Disemprotnya Parjo dan kembali penis
Parjo ia jepit di antara payudaranya dan hisap-hisap hingga tegang
kembali. Kali ini Parjo tidak mau kecolongan. Parjo menyandarkan tangan
Baby pada bathub dan memegang pantat Baby mengepaskan dengan penisnya.
Tiba-tiba, “blush…” penis Parjo menusuk masuk liang kenikmatan Baby,
membuat Baby melenguh nikmat dan tubuhnya terlenting seksi ke belakang.
Tangan Parjo pun memegang bongkahan pantat Baby.

“Ssshhh…. Jo, tampar pantatku Jo…” erang Baby nikmat.

“Plak….plak…plak….” tamparan pun mendarat di pantat Baby membuatnya memerah.

“Ssshhh…. Enak Jo, saya mau keluar” erang Baby menahan nikmat.

Parjo pun menaikkan kecepatan tusukannya. Kedua tangannya kini meremas-remas payudara Baby.

“Ohhh…..”
“Crrrr….crrr…” Mulut Baby membentuk huruf O yang seksi. Tubuh Baby
melenting ke belakang. Lututnya bergetar tak mampu menahan berat
tubuhnya. Baby terjatuh pelan bertumpu pada lututnya. Sementara Parjo
masih mendiamkan Baby menikmati orgasmenya dan menyangga tubuh Baby agar
tidak terlepas.



“Jo, capek berdiri terus nih” keluh Baby manja.

Maka
gantian lah Jo duduk di bathub dan memangku Baby yang sedang berusaha
memasukkan penis Parjo ke dalam liang kenikmatannya. “Bleeeshh….”
“Heghh….” Baby melenguh, merasakan penis Parjo menembus ruang terdalam
liang kenikmatannya dan seolah mencumbu pintu rahimnya seolah membuat
vaginanya meleleh nikmat. Jo pun berdiri dan menggendong tubuh Baby. Jo
mulai melanjutkan persetubuhan yang hot itu. Dia menyandarkan tubuh Baby
pada tembok, menusuknya dengan kencang, dan sesekali menciuminya.
Sementara Baby mengaitkan kakinya dengan erat dan memeluk Jo kencang
supaya tak jatuh. Posisi ini membuat tusukan-tusukan Jo semakin dalam.
Baby pun mengerang keenakan, membuat Jo bersemangat. Tak berselang lama,
tubuh Baby melenting mendapatkan orgasmenya. Jo yang pada posisi itu
merasakan penisnya bagaikan di giling-giling nikmat oleh vagina Baby pun
tak kuasa menahan gejolaknya lagi. Dengan sekali sentakan, penis Jo
kembali mencium pintu rahim Baby Margaretha dan mengalirkan sperma
hangatnya ke dalam rahim Baby, mengisinya penuh, seolah Jo ingin Baby
mengandung anaknya. Mereka berduapun berciuman mesra, bibir dan lidah
saling mengait, seolah tak ada hari esok. Jo pun duduk kembali pada
bathub. Kali ini giliran lutunya yang bergetar. Sementara Baby sibuk
membersihkan penis Jo dengan hisapan mautnya seolah tak ingin ada sperma
yang tertinggal. Setelah itu merekapun mandi bersama, saling membasuh
dan menyabuni satu sama lain. Tentunya Jo tak melewatkan kesempatan
untuk kembali meremas-remas payudara Baby yang seksi.

____________________________

End of Night



Usai
mandi, Baby meminjamkan kimono dan handuknya pada Parjo. Sementara Baby
membalut tubuh seksinya dengan handuk ungu. Berjalan menuju lemari es
dan menungging untuk mengambil botol air mineral. Mengarahkan pantat
seksinya pada Jo, seolah kembali mengundang untuk bermain.



Melihat pemandangan yang begitu menggoda, Jo kembali mendekati Baby dari belakang dan memeluknya hangat.

“Ei...ei.. Jo… udah dulu dong, Baby mo istirahat dulu, kamu udah tiga kali keluar lo Jo” kata Baby Margaretha sewot.

“Hehehe…
tanggung non, biasanya kalo udah tiga juga Jo lemes. Cuman entah kenapa
ini otong “naek” lagi, udah deh non, nurut aja yah” Kata Jo terkekeh.

“Gawat,
gue lupa, tadi udah masukin viagra ke minuman Jo” gumam baby lirih.
Namun apa daya, serbuan Jo juga kembali membangkitkan gairah Baby
Margaretha. Tubuhnya haus akan belaian lelaki. Beberapa hari ini memang
para bos-bos dan eksekutif yang membookingnya belum memanggilnya lagi
karena sedang sibuk, maklum akhir tahun, masa tutup buku, sedang
sibuk-sibuknya, sehingga ia tidak merasakan seks yang penuh gairah sejak
itu. Baby pun menyambut ajakan Jo, dan kembali mereka keduanya memadu
kasih hingga pagi menjelang.

Senin, 01 Juli 2013

Cerita Dewasa | Ngentotin Mamaku



Sebenarnya aku teramat malu untuk menceritakan kejadian tragis ini, bagaimanapun ini rahasia keluarga, aku dan mama. Waktu itu hari Minggu pagi, pertengahan bulan Desember 2012, ketika liburan sekolah semester ganjil, semester pertama setelah di SMU.
Pada hari itu aku diminta mama untuk mengantar ke Solo, katanya ada acara reuni dengan teman-temannya di kota Solo. Dengan sepeda motor pemberian mama sebagai hadiah ulang tahun ke-17 juga sebagai hadiah aku diterima di salah satu SMA negeri bonafid di kabupaten, aku antar mama ke Solo, tepatnya di kota Palur.
Sesampainya di tujuan, sudah banyak teman mama yang hadir. Mereka datang berpasangan (mama sudah menjanda ketika aku duduk di kelas II SMP, papa tertanggap menghamili gadis tetangga). Semula aku kira mereka pasangan suami istri atau ibu dengan puteranya sepertiku, namun lama-lama aku menjadi sangsi. Bagaimana tidak, meskipun selisih usianya cukup jauh tapi mereka tampak begitu mesra. Bahkan ketika mama memperkenalkan aku kepada teman-temannya sebagai anaknya, mereka semua tidak percaya, malah-malah mereka bilang mama hebat dalam memilih pasangan. Beberapa lelaki, yang semula aku anggap suami-suami mereka, banyak yang memberi semangat kepadaku.
Menurut mereka, aku merupakan lelaki yang beruntung bisa mendapatkan cewe seperti mama, selain cantik, muda dan tidak pelit namun yang lebih penting duitnya banyak. Sebenarnya aku malu, marah dan kesal. Bagaimana tidak marah, mereka tetap tidak percaya kalau aku anak mama yang sebenarnya. Namun demi melihat mama hanya tersenyum saja, aku tak menampakkan kesemuanya itu.

Dalam perjalanan pulang mama baru cerita semuanya kalau sebenarnya mereka bukan suami istri atau ibu dengan anak-anaknya, mereka merupakan pasangan idaman lain (PIL). Mama juga cerita mengapa tadi hanya tersenyum waktu mereka bilang aku pasangan mama dan hanya sedikit membela diri bahwa aku anaknya yang sebenarnya.
Menurut mama susah menjelaskan kepada mereka kalau aku anak mama yang sebenarnya, karena dihati mereka sudah lain. Mama juga cerita kenapa mengajak aku untuk mengantar ke acara tersebut, selain aku libur juga mama akan susah menolak seandainya nanti lelaki (gigolo) yang mereka tawarkan kepada mama jadi datang. Selama ini sudah sering mama diolok-olok oleh mereka. Mama dikata sebagai janda muda yang cantik dan punya uang tapi kuper. Dan jadwal selanjutnya, tahun baru (siang) di yogyakarta, di rumah Tante Ina.
Dua minggu sejak pertemuan di Solo, Tahun Baru pun datang, 1 Januari 2013. Dengan sepeda motor yang sama aku antar mama ke rumah Tante Ina di yogyakarta. Sengaja untuk acara ini aku minta mama untuk membeli beberapa pakaian, aku tidak terlalu kalah gengsi dengan cowok-cowok mereka. Sesampainya kami di di rumah Tante Ina, teman-teman mama sudah banyak yang datang lengkap dengan centheng-centhengnya. Ketika datang kami disambut dengan peluk dan cium mesra.
Rumah Tante Ina cukup besar dan luas, cukup untuk menampung lebih dari 30 orang. Acara dibuka dengan sambutan selamat datang dan selamat tahun baru dari tuan rumah, dilanjutkan dengan makan bersama dan seterusnya acara biasa “ngerumpi”. Entah usul dari siapa, diruangan tengah menyetel VCD porno. Kata mereka biasa untuk menghangatkan suasana yang dingin karena musin hujan.
Bisa dibayangkan bagaiaman perasaanku, diusia ke-17 dikala tingkat birahi sedang tumbuh menyaksikan kesemuanya ini. Mamapun juga tampak kikuk terhadapku, terlebih ketika Tante Astuti dan pacarnya tampak asyik bercium mesra disampingku dengan tangannya yang gencar menjelajah dan suaranya yang cukup berisik. Dan diantara kegelisahan itu, Tante Ina membisikkan kepada kami kalau mau boleh menggunakan kamar diatas. Sambil menyerahkan kunci dia ngeloyor pergi sama pacarnya.

Aku dan mama hanya tersenyum, tapi ketika aku toleh di sekeliling sudah kosong, yang ada tinggal Tante Melani dan Tante Yayuk beserta pasangan mereka masing-masing, dimana pakaian yang mereka kenakan juga sudah kedodoran dan tidak lengkap lagi. Dengan rasa jengah mama mengajakku ke lantai atas.
Di lantai atas, di kamar yang disediakan untuk kami, tidak banyak yang dapat dilakukan. Kasur yang luas dan kain sprei yang berwarna putih polos hanya menambah gairah mudaku yang tak tersalurkan. Mama minta maaf, kata mama kegiatan semacam ini tidak biasanya diadakan waktu siang hari, dan baru kali ini mama ikut didalamnya (biasanya mama tidak hadir kalau acara malam hari). Sewaktu akan keluar kamar mama sengaja membuat rambutnya tampak awut-awutan (biar enggak ada yang curiga, katanya).
Waktu menunjukkan pukul 15.30 wib acara selesai. Pertemuan selanjutnya dikediaman Tante Astuti di Solo, bertepatan hari ulang tahun Tante Astuti yang ke-42. Sejak acara mendadak di rumah Tante Ina, selama dalam perjalanan pulang, mama tak banyak bicara. Kebekuan ini akhirnya cair waktu kami istirahat isi bensin.
Satu hal yang tak dapat kulupa dari mama, ketika akan keluar kamar atas tidak tampak penolakan mama waktu aku sekilas mencium pipi dan bibirnya serta waktu akan pamitan pulang mama juga tampak santai ketika tanganku sekilas meremas buah dadanya.

Ketika aku tanyakan semua ini, mama hanya tersenyum dan mengatakan kalau aku mulai nakal.
Sehari menjelang pertemuan di rumah Tante Astuti mama tanya sama aku, mau datang apa enggak karena malam hari dan takut hal-hal seperti dirumah Tante Ina yang lalu akan terulang. Karena bertepatan hari ulang tahun Tante Astuti aku sarankan hadir, masalah yang lalu kalau memang harus terjadi yach itung-itung rejeki, kataku sambil berkelakar.
5 Februari 20 di rumah Tante Astuti suasana hingar-bingar. Maklum Tante Astuti seorang janda sukses dengan seorang putera yang masih kecil. Dalam acara hari ini Tante Astuti sengaja mendekorasi rumahnya dengan suasana diskotik. Dentuman musik keras, asap rokok dan bau minuman beralkohol menyemarakkan hari ulang tahunnya.
Setelah memberikan ucapan selamat dan mencicipi makan malam acara dilanjutkan dengan ajang melantai. Sebenarnya mama sudah berusaha untuk tidak beranjak dari tempat duduknya, namun permintaan Tante Susan agar mama bersedia berdansa dengan relasi Tante Susan jualah yang membuat mama bersedia bangkit. Tak tega aku melihat kekikukan mama apalagi relasi Tante Susan tampak berusaha untuk mencium mama, serta merta akupun berdiri dan permisi kepada relasi Tante Susan agar mama berdansa denganku.
Kujauhkan rasa sungkan, malu dan grogi. Kurengkuh pinggang mama sambil terus berdansa kuajak ke arah taman untuk istirahat minggir dari keramaian pesta.

Dibangku taman bukan ketenangan yang kudapat, justru yang ada Tante Vita dan Tante Mitha dengan pasangannya asyik bercumbu mesra. Kepalang tanggung mau kembali ke pesta kasihan mama yang sudah cukup lelah selain tak enak sama mereka karena kalaupun kembali ke dalam harus melewati Tante Vitadan Tante Mitha.
Akhirnya mama memutuskan kami tetap dibangku taman sambil menunggu pesta usai. Supaya Tante Vitadan Tante Mitha tidak merasa jengah, mama memintaku untuk menciumnya. Awalnya hanya sekedar pipi dan sekilas bibir namun demi mendengar dengus nafsu Tante Yani, nafsu mudaku pun tak dapat kutahan. Tak hanya kecupan, justru pagutan yang lebih dominan dan tanpa sadar entah kapan mulainya, tangan ini sudah bergerilya di dalam baju mama, memeras, memilin dan ….. hingga teriakan nafsu Tante Mitha menyadarkan perbuatanku atas mama.
Bercampurlah rasa malu, bersalah dan entah …. pada diri ini, aku mengajak mama untuk segera pamit kepada tuan rumah meskipun Tante Astuti menyarankan kami menginap dirumahnya.
Sesampainya dirumah kutumpahkan rasa sesalku atas perbuatan tak senonohku pada mama. Lagi-lagi mama hanya tersenyum dan mengatakan tak apa-apa, wajar orang lupa dan khilaf apalagi suasana seperti di rumah Tante Vitayang serba bebas. Sambil iseng aku bertanya mengapa waktu itu mama tidak menolak. Kata mama supaya Tante Vitadan Tante Mitha tak terganggu apalagi waktu itu aku tampak bernafsu sekali. Oleh mama aku tak perlu memikirkan yang sudah-sudah dan sambil beranjak tidur mama masih sempat mencium pipiku.
Namun bagaimana aku bisa tak perlu memikirkan yang sudah-sudah sementara nafsu sudah bersimaharajalela. Karena tetap tak bisa tidur, dengan terpaksa tengah malam (+ 02.00 wib) kubangunkan mama. Dikamar tengah kucumbu mama, kucium, kupagut dan tangan ini tak terhalang bergentayangan disekujur tubuh mama. Namun tangan ini akhirnya berhenti sebelum sampai pada tujuan akhir, tempat yang teramat khusus.
Pagi harinya tak tampak kemarahan pada wajah mama, sambil sarapan pagi mama malah berkata kalau aku mewarisi sifat-sifat papa yang nakal tanpa menegur kelakuanku tadi malam. Bahkan mama geleng-geleng kepala ketika aku pamit berangkat sekolah kucium bibirnya didepan pintu.
4 April 2013 genap sudah 18 tahun usiaku, hari itu terasa lama sekali menunggu sore. Hari itu aku menunggu-nunggu hadiah ulang tahun spesial yang telah dijanjikan mama. Dua hari yang lalu, aku ditanya mama ingin hadiah apa untuk merayakan hari ulang tahunku. Sudah cukup banyak hadiah ulang tahun yang aku punya seperti : motor atau komputer. Akhirnya aku katakan pada mama, kalau mama tidak keberatan aku mau mama. Sekilas mama terdiam, ada perasaan tidak percaya atau tidak dapat menerima permintaanku. Aku dikira bercanda lagi dan mama bertanya seebnarnya aku mau hadiah apa, aku bilang pada mama kalau aku tidak bercanda kalau aku mau mama.
Dua hari mama terdiam, dua hari kami tidak bertegur sapa. Aku kira mama marah atas permintaanku terdahulu. Pagi hari tadi setelah sarapan aku minta maaf pada mama atas permintaanku dua hari yang lalu dan sekaligus aku bermaksud menarik permintaanku.
Namun mama berkata lain, bahwa permintaanku dua hari yang lalu akan mama penuhi. Aku nanti malam diminta tidak mengundang teman-temanku dan aku juga diminta untuk mempersiapkan diri. Timbul dihatiku rasa senang, cemas, grogi, bahagia dan entah…. Spontan kucium mama, kucium pipinya, kucium bibirnya dan kucium matanya serta kupeluk erat.
Selepas pulang kerja tadi sore mama tidak keluar dari kamarnya. Baru tepat pukul 21.30 wib bersamaan dengan selesainya acara Dunia Dalam Berita di TVRI mama memanggilku untuk ke kamarnya. Dengan gemuruh hati yang berdetak keras kuhampiri kamarnya dan kudapati mama di depan pintu dengan tubuhnya terbalut kain sprei. Sambil tersenyum manis mama mencium bibirku dan mulai melepas satu-persatu pakaian yang kukenakan. Tak kudapati wajah keterpaksaan pada mama, bahkan dengan serta merta tangan mama meraba dan mengelus dengan lembut ketika pakaian yang kukenakan tinggal celana dalam saja.
Dengan nafsu dan gairah yang menggelegak kuserang mama. Kucium, kupeluk, kucumbu dan dengan kekuatan prima kuakhiri perjakaku yang disambut mama dengan belitan yang memabukkan, yang menuntuk terus dan selalu terus, entah berapa kali malam itu birahi kutuntaskan.

Ada terbersit rasa bangga, puas dan plong ketika kutemukan mama tertidur pulas dengan bertelanjang dalam pelukanku. Kucium keningnya, namun ketika aku akan bangun mama menahanku dan dengan kelihaiannya mampu membangkitkan lagi gairah birahiku. Dan pagi hari itupun menjadi pagi yang teramat indah. Sebelum aku meninggalkan kamarnya mama mencium pipi dan bibirku sekilas sambil mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.

Entah mengapa dengan mama aku bisa begitu bergairah, semenjak kejadian di rumah Tante Vitadi Yogyakarta yang lalu setiap memandang mama selalu timbul birahiku. Di sekolah tak kurang gadis sebaya yang lebih cantik yang tak menolak aku pacari, namun justru dengan mama birahiku timbul. Tapi harus diakui meskipun mama sudah cukup umur namun memang masih cantik, putih, tinggi, sintal, supel, luwes, berisi dan semenjak itu, hampir tiada batas penghalang antara aku dan mama. Dimana tempat dan dimana waktu, kalau aku mau mama selalu memenuhi. Dengan mama birahiku tak padam-padam. Setiap acara teman-teman mama selalu menjadi acara luar kota yang sangat mengasyikan dan menjadi acara favorit yang selalu aku tunggu-tunggu.
Sungguh permainan ranjang mama menjadi suatu candu hidupku, sore hari, sebelum tidur, sebelum belajar bahkan sebelum berangkat sekolah pun mama selalu siap. Dengan lemah-lembut, keayuan, kepasrahan, dan naluri keibuannya mama memenuhi hasratku sebagai lelaki.
Hingga kini, ketika istriku tengah mengandung anakku yang ketiga, dimana istri sedang tidak laik pakai, kembali mama sebagai penyelamat saluran nafsuku dan entah sampai kapan lagi kami masih harus begini.

Jumat, 28 Juni 2013

Cerita Dewasa | Kakakku Ketagihan Masturbasi dan Aku Ajak Ngentot






Cerita Dewasa | Kakakku Ketagihan Masturbasi dan Aku Ajak Ngentot – Cerita dewasa ini mengisahkan serunya seorang adik suka ngintip kakaknya cewek masturbasi. Ga cuman suka masturbasi, ternyata sang kakak adalah seorang cewek lesbian, suka berhubungan dengan sesama jenis. Bahkan si adik pernah diajak ngentot bareng dengan teman pasangan lesbinya sang kakak. Cerita sex dewasa yang seru, panas dan layak anda baca. Berikut ini ceritanya….

Namaku Tedy. Aku mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung. Saat ini aku kuliah semester II jurusan TI. Sejak awal kuliah, aku tinggal dirumah kakak ku. “Kak Dewi” begitulah aku memanggilnya. Usianya terpaut 5 tahun denganku. Ia sebenarnya bukan kakak kandungku, namun bagiku ia adalah kakak dalam arti yang sebenarnya. Ia begitu telaten dan memperhatikan aku. Apalagi kini kami jauh dari orang tua.

Rumah yang kami tempati, baru satu tahun dibeli kak Dewi. Tidak terlalu besar memang, tapi lebih dari cukup untuk kami tinggali berdua. Setidaknya lebih baik dari pada kost-kostan. Kak Dewi saat ini bekerja disalah satu KanCab bank swasta nasional. Meskipun usianya baru 28 tahun, tapi kalau sudah mengenakan seragam kantornya, ia kelihatan dewasa sekali. Berwibawa dan tangguh. Matanya jernih dan terang, sehingga menonjolkan kecantikan alami yang dimilikinya.

Dua bulan pertama aku tinggal dirumah kak Dewi, semuanya berjalan normal. Aku dan kak Dewi saling menyayangi sebagaimana adik dan kakak. Pengahasilan yang lumayan besar memungkinkan ia menangung segala keperluan kuliah ku. Memang sejak masuk kuliah, praktis segala biaya ditanggung kak Dewi.

Namun dari semua kekagumanku pada kak Dewi, satu hal yang aku herankan. Sejauh ini aku tidak melihat kak Dewi memiliki hubungan spesial dengan laki-laki. Kupikir kurang apa kakaku ini ? cantik, sehat, cerdas, berpenghasilan mapan, kurang apa lagi ? Seringkali aku menggodanya, tapi dengan cerdas ia selalu bisa mengelak. Ujung-ujungnya ia pasti akan bilang, “Gampang deh soal itu, yang penting karier dulu…!”, aku percaya saja dengan kata-katanya. Yang pasti, aku menghomati dan mengaguminya sekaligus.

Hingga pada suatu malam. Saat itu waktu menunjukan pukul 9.00, suasana rumah lengang dan sepi. Aku keluar dari kamarku dilantai atas, lalu turun untuk mengambil minuman dingin di kulkas. TV diruang tengah dimatikan, padahal biasanya kak Dewi asyik nongkrongin Bioskop Trans kesayangannya.

Karena khawatir pintu rumah belum dikunci, lalu aku memeriksa pintu depan, ternyata sudah dikunci. Sambil bertanya-tanya didalam hati, aku bermaksud kembali ke kamarku. Namun tiba-tiba terlintas dibenakku, “kok sesore ini kak Dewi sudah tidur ?”, lalu setengah iseng perlahan aku mencoba mengintip kak Dewi didalam kamar melalui lubang kunci. Agak kesulitan karena anak kunci menancap dilubang itu, namun dengan lubang kecil aku masih dapat melihat kedalam.

Dadaku berdegup kencang, dan lututku mendadak gemetar. Antara percaya dan tidak pada apa yang kulihat. Kak Dewi menggeliat-geliat diatas spring bad. Tanpa busana sehelaipun !!!
Ya Ampun ! Ia menggeliat-geliat kesana kemari. Terkadang terlentang sambil mendekap bantal guling, sementara kedua kakinya membelit bantal guling itu. Kemudian posisinya berubah lagi, ia menindih bantal guling.

Napasku memburu. Ada rasa takut, malu, dan entah apalagi namanya. Sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh didadaku. Kualihkan pandanganku dari lubang kunci sesaat, pikiranku sungguh kacau, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Namun kemudian rasa penasaran mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat kak Dewi masih menindih batal guling.

Pinggulnya bergerak-gerak agak memutar, lalu kemudian dengan posisi agak merangkak ia menumpuk dan memiringkan bantal dan guling, lalu meraih langerie-nya. Ujung bantal itu ditutupinya dangan langerie. Kembali aku mengalihkan pandanganku dari lubang kunci itu. Ngapain lagi tuh ?!!, aku tertegun.

Entah kenapa, rasa takut dan jengah perlahan berganti dengan geletar-geletar tubuhku. Tanpa sadar ada yang memanas dan mengeras di balik training yang aku kenakan. Aku meremasnya perlahan. Ahhh…

Ketika kembali aku mengintip ke dalam kamar, kulihat Kak Dewi mengarahkan selangkangannya pada ujung bantal itu, hingga posisinya benar-benar seolah menunggangi tumpukan bantal itu.

Lalu tubuhnya terutama bagian pinggul bergoyang goyang dan bergerak-gerak lagi, setiap goyangan yang dilakukanya secara reflek membuat aku semakin cepat meremas batang kemaluanku sendiri. Entah berapa lama aku menyaksikan tingkah laku kak Dewi didalam kamar. Nafasku memburu, apalagi manakala aku melihat gerakan kak Dewi yang semakin cepat. Mungkin ia hendak mencapai orgasme, dan benar saja, beberapa saat kemudian tubuh kak Dewi nampak berguncang beberapa saat, jemari kak Dewi mencengkram seprai.

Aku tak tahan lagi. Bergegas aku menuju kamarku sendiri. Lalu kukunci pintu. Kumatikan lampu, lalu berbaring sambil memeluk bantal guling dengan nafas memburu. Pikiranku kacau. Bagaimanapun aku laki-laki normal. Aku merasakan gelombang birahi menyala dan semakin menyala didalam tubuhku.

Dan makin lama makin membara. Ah… aku tak tahan lagi. Dengan tangan gemetar aku membuka seluruh pakaian yang kukenakan, lalu aku berguling-guling diatas spring bad sambil mendekap bantal guling. Aku merintih dan mendesah sendirian. Diantara desahan dan rintihan aku menyebut-nyebut nama kak Dewi. Aku membayangkan tengah berguling-guling sambil mendekap tubuh kak Dewi yang putih mulus. Pikiranku benar-benar tidak waras.

Aku membayangkan tubuh kak Dewi aku gumuli dan kuremas remas. Sungguh aku tidak tahan, dengan sensasi dan imajinasiku sendiri, aku merintih dan merintih lalu mengerang perlahan seiring cairan nikmat yang muncrat membasahi bantal guling. (Besok harus mencuci sarung bantal…masa bodo…!!!!)…………….

Sejak kejadian malam itu, pandanganku terhadap kak Dewi mengalami perubahan. Aku tidak saja memandangnya sebagai kakak, lebih dari itu, aku kini melihat kak Dewi sebagai wanita cantik. Ya wanita cantik ! wanita cantik dan seksi tentunya. Ah…….! (maafkan aku kak Dewi !)

Terkadang aku merasa berdosa manakala aku mencuri-curi pandang. Kini aku selalu memperhatikan bagian-bagian tubuh kak Dewi. . ! mengapa baru sekarang aku menyadari kalau tubuh kak Dewi sedemikian putih dan moligh. Pinggulnya, betisnya, dadanya yang dihiasi dua gundukan itu.

Ah lehernya apalagi, mhhh rasanya ingin aku dipeluk dan membenamkan wajah dilehernya.
“Hei, kenapa melamun aja ? Ayo makan rotinya !“, kata kak Dewi sambil menuangkan air putih mengisi gelas dihadapanya, lalu meneguknya perlahan. Air itu melewati bibir kak Dewi, lalu bergerak ke kerongkonganya…. Ahhh kenapa aku jadi memperhatikan hal-hal detail seperti ini ?
“Siapa yang melamun, orang lagi …. ammmm mmm enak nih, selai apa kak ?”, aku mengalihkan perhatian ketika kedua bola mata kak Dewi menatapku dengan pandangan aneh.

“Nanas ! itu kan selai kesukaanmu. awas abisin yah !”, kak Dewi bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan membelakangiku menuju wastafel untuk mencuci tangan.
“OK, tenang aja !”, mulutku penuh roti, tapi pandangan mataku tak berkedip menyaksikan pinggul kak Dewi yang dibungkus pakaian dinasnya. Alamak, betisnya sedemikian putih dan mulus…
“Kamu gak pergi kemana-mana kan ?“, kata kak Dewi. Hari sabtu aku memang gak ada mata kuliah.

“Enggak…!”, kataku sesaat sebelum meneguk air minum.
“Periksa semua kunci rumah ya Ted kalo mau pergi. Kemarin di blok C11 ada yang kemalingan….!”.
“Mmhhh… iya, tenang aja…”, kataku sambil merapikan piring dan gelas bekas sarapan kami.
Beberapa saat kemudian suara mobil terdengar keluar garasi. Lalu suara derikan pintu garasi ditutup. Dan ketika aku keteras depan, Honda Jazz warna silver itu berlalu meninggalkan pekarangan.

Setelah memastikan kak Dewi pergi, aku kemudian mulai mengamati atap dan jarak antar ruangan. Sejak kemarin aku telah memiliki suatu rencana. Aku mau memasang Mini Camera kekamar kak Dewi, biar bisa online ke TV dikamarku, he he !.
Sebulan berlalu, otakku benar-benar telah rusak.

Aku selalu menunggu saat-saat dimana kak Dewi bermasturbasi. Dengan bebas aku melihat Live Show, lewat mini kamera yang telah kupasang dilangit-langit kamar Kak Dewi. Aman ! sejauh ini kak Dewi tak menyadari bahwa segala gerak-geriknya ada yang mengamati.
Benar rupanya hasil survai sebuah lembaga bahwa 60 % dari wanita lajang melakukan masturbasi. Kalau kuhitung bahkan ka Dewi melakukanya seminggu dua kali. Pasti tidak terlewat ! malam rabu dan malam minggu.

Kasihan kak Dewi. Ia mestinya memang sudah berumah tangga. Tapi biarlah, kak Dewi toh sudah dewasa, ia pasti tahu apa yang dilakukannya. Dan yang terpenting aku punya sesuatu untuk kunikmati. Kalau kak Dewi melakukannya dikamarnya, pasti aku juga. Ahh…..
Seringkali ditengah kekacauan pikiranku, ingin rasanya aku bergegas kekamar kak Dewi ketika kak Dewi tengah menggeliat-geliat sendiri.

Aku ingin membantunya. Sekaligus membantu diriku sendiri. Gak usah beneran, cukup saling bikin happy aja. Tapi aku gak berani. Apa kata dunia ?
Malam ini. Aku tak sabar lagi menunggu, sudah hampir jam sembilan. Tapi kok gak ada tanda-tandanya. Kak Dewi masih asyik nongkrongi TV diruang tengah. Aku kemudian bergegas keluar rumah bermaksud mengunci gerbang.
“Mau kemana Ted ?”,
“Kunci gerbang ah, udah malem !”, kataku sambil menggoyangkan anak kunci .

“Jangan dulu dikunci, temen kak Dewi ada yang mau kesini !”,
“Mau kesini ? siapa kak ?”,
“Santi…yang dulu itu lho !”,
“Ohh…!”, aku mencoba mengingat. Sinta ? ah masa bodo… tapi kalo dia kesini, kalo dia nginep, berarti …? Yah…! hangus deh.

Aku bergegas kembali kedalam. Dan ketika aku menaiki tangga ke lantai atas, HP kak Dewi berdering. Kudengar kak Dewi berbicara, rupanya temennya si Sinta brengsek itu udah mau datang. Huh !
Aku hampir aja ketiduran. Atau mungkin memang ketiduran. Kulihat jam menunjukan pukul 10.30 malam, ya ampun aku memang ketiduran.

Cuci muka di wastafel, lalu aku ambil sisa kopi yang tadi sore kuseduh. Dingin tapi lumayan daripada gak ada. Lalu seteguk air putih. Lalu sebatang Class Mild.

Dan, asap memenuhi ruang kamar. Kubuka jendela, membiarkan udara malam masuk kekamarku. Sepi. Temennya kak Dewi udah pulang kali ?!.
Kunyalakan TV, tapi hampir seluruh chanel menyebalkan, Kuis, Lawakan, Ketoprak, Sinetron Mistery, fffpuih ! kuganti-ganti channel tapi emang semua chanell menyebalkan, lalu kutekan remote pada mode video…lho apa itu…?!
Ya ampun ! sungguh pemandangan yang menjijikan.

Apa yang akan dilakukan kak Dewi dan temannya itu. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah, kesal. Aku tidak menyangka kalau kak Dewi ternyata menyukai sesama jenis (Lesbian).

Apa kata Mama. Ya ampuuuuun…!
Kumatikan TV. Aku termenung beberapa saat.
Aku ambil gelas kopi, satu tetes, kering. Ah air putih saja. Aku habiskan air digelas besar sampai tetes terakhir.

Tapi…., aku tekan lagi tombol power TV, Upps… masih On Line ! Aku melihat kak Dewi dengan temannya berbaring miring berhadapan. Aku yakin mereka tanpa busana. Meskipun berselimut, bagian pundak mereka yang tak tertutup menunjukan kalau mereka tak berpakaian. Mereka saling menatap dan tersenyum.

Tangan kiri kak Sinta mengelus-elus pundak kak Dewi. Sementara kuperhatikan tangan kak Dewi nampaknya mengelus-elus pinggang kak Sinta, tidak kelihatan memang tapi gerakan-gerakan dari balik selimut menunjukan hal itu. Lama sekali mereka saling pandang dan saling tersenyum. Mungkin mereka juga saling berbicara, tapi aku tak mendengarnya karena aku tidak memasang Mini Camera dengan Mic.

Perlahan kepala kak Sinta mendekat, tangannya menghilang kedalam selimut dan menelusuri punggung kak Dewi. Aku Cemburu ! Mereka berciuman dengan penuh perasaan, perlahan saling mengulum dan melumat. fffpuih ! Ternyata benar-benar ada tugas pria yang dilakukan oleh wanita.

Untuk beberapa saat mereka berciuman dan saling meraba. Aku jadi menahan nafas. Mungkin aku juga ketularan tidak waras, rasanya ada satu gairah yang perlahan bangkit didalam tubuhku. Bahkan, aku mulai mendidih !
Sesaat kak Sinta nampak menelusuri leher kak Dewi dengan bibir dan lidahnya, aku mengusap leherku sendiri.

Entah kenapa aku merasa merinding nikmat. Apalagi melihat ekpresi kak Dewi yang pasrah tengadah, sementara kak Sinta dengan lembut bolak-balik menjilat leher, dagu, pangkal telinga. Aku tak tahan melihat kak Dewi diperlakukan seperti itu. Setelah mematikan lampu, aku kemudian beranjak ke atas spring Bad, mendekap bantal guling, sementara mataku tak lepas dari layar TV.

Situasi semakin seru, kak Dewi kini yang beraksi, ia kelihatan agak terlalu terburu-buru. Dengan penuh nafsu ia menjilati dan menciumi leher kak Sinta yang kini terlentang ditindih kak Dewi. Kepala kak Sinta mendongak-dongak, aku yakin ia tengah merasakan gelenyar-gelenyar nikmat dilehernya.

Kemudian kak Dewi berpindah menciumi dada kak Sinta, sekarang baru nampak jelas wajah kak Sinta. Ia ternyata cantik sekali, bahkan sedikit lebih cantik dari kak Dewi. Ah aku terangsang. Tonjolan dibalik kain sarung yang kukenakan makin mengeras. Agak ngilu terganjal ujung bantal guling, sehingga perlu kuluruskan.

Kak Dewi benar-benar beraksi, ia menciumi dan melahap payudara kak Sinta. Wajah kak Sinta mengernyit, dan mulutnya terbuka, apalagi ketika kak Dewi mengemut putting susunya. Ia Menggeliat-geliat sementara kedua tangannya mendekap kepala kak Dewi. Bergantian kak Dewi mengerjai kedua payudara kak Sinta. Kak Sinta menggeliat-geliat. Semakin liar, apalgi ketika kak Dewi menyelinap ke dalam selimut.

Tiba-tiba kepala Kak Dewi muncul lagi dari balik selimut, tengadah mungkin ia tersenyum atau tengah mengatakan sesuatu, karena kulihat kak Sinta tersenyum, lalu sebuah kecupan mendarat dikening Kak Dewi.

Sesaat kemudian kak Dewi menghilang lagi ke dalam selimut. Kak Sinta tampak membetulkan posisi badannya, selimutnya juga dirapihkan, aku tak dapat melihat apa yang tengah dilakukan kak Dewi, tapi menurut perkiraanku kepala kak Dewi tepat diantara selangkangan kak Sinta. Entah apa yang tengah dilakukannya.

Namun yang terlihat, kak Sinta mendongak-dongak, kedua tanganya meremas-remas kepala kak Dewi. Kepala kak Sinta bergerak kekanan dan kekiri. Tubuhnya juga menggelinjang kesana sini. Kondisi seperti itu berlalu cukup lama.

Aku keringatan. Nafasku memburu. Tanpa sadar kubuka kaus yang kukenakan, lalu kulemparkan kain sarungku. Kemaluanku mengeras, menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya. Ah… edan !

Tiba-tiba aku lihat kak Sinta mengejang beberapa kali. Pinggulnya mengangkat, kedua pahanya menjepit kepala kak Dewi. Mengejang lagi, sementara kepalanya mendongak kekanan dan kiri. Ia terengah-engah, lalu sesaat kemudian terdiam.

Matanya terpejam. Kemudian kak Dewi muncul dari balik selimut, ia nampak mengelap mulutnya dengan selimut. Paha kak Sinta tersingkap karenanya.

Kak Sinta kemudian meraih kedua bahu kak Dewi, mendaratkan kecupan dikening, pipi kanan dan kiri kak Dewi, lalu merangkul kak Dewi ke dalam pelukannya. Beberapa saat mereka berpelukan. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat menahan napas, sementara tangan kananku meremas-remas dan mengurut kemaluanku sendiri.

Dan, kemudian mereka nampak berbincang lagi, lalu kak Dewi membaringkan badanya. Terlentang. Kak Sinta menarik selimut, lalu menyingkirkannya jauh-jauh.
Kak Dewi kelihatan protes, tapi protes kak Dewi dibalas dengan lumatan bibir kak Sinta. Tubuh kak Sinta menindih tubuh kak Dewi. Aku melihat, dengan mata kepalaku sendiri. Dua wanita cantik, dua tubuh indah dengan kulit putih mulus, tanpa busana, tanpa penutup apapun.

Saling menyentuh.
Kak Sinta kini yang bertindak aktif, ia kini menjilati leher, pangkal leher, bahu, dada, payudara kanan dan kiri.

Kak Dewi nampak pasrah diperlakukan seperti itu. Kak Sinta nampak lebih terampil dari kak Dewi, hampir setiap inci tubuh kak Dewi dijilati dan dikecupnya. Bahkan kini ia menelusuri pangkal paha kak Dewi dari arah perut dan terus bergerak ke awah.

Kak Dewi hendak bangun, kedua tanganya seolah menahan kepala kak Dewi yang terus bergerak ke bawah, entah mungkin karena geli atau nikmat yang teramat sangat. Tapi tangan kak Sinta menahanya, akhirnya kak Dewi menyerah. Dihempaskannya tubuhnya ke atas spring bad.

Kak Sinta kini menciumi paha, lutut, bahkan telapak kaki kak Dewi. Tangan kanan kak Dewi mengusap-usap kemaluannya, sementara jari-jari tangan kirinya dimasukan kedalam mulutnya sendiri. Ia mengeliat-geliat.

Tubuh kak Sinta kemudian berubah lagi. Ia kini telah siap berada diantara paha kak Dewi. Kak Sinta menarik bantal dan meletakannya, dibawah pinggul kak Dewi, sehingga tubuh bagian bawah kak Dewi makin terangkat. Kepala kak Dewi terjepit persis diantara selangkangan kak Dewi.

Sebelah tangannya meremas-remas payudara kak Dewi. Aku lihat tubuh kak Dewi mengelinjang-gelinjang. Tak sadar aku turut merintih. Semakin kak Dewi menggelinjang, nafasku semakin memburu. Tubuhku kini mendekap dan mengesek-gesek bantal guling, dan batang kemaluanku menggesek-gesek ujungnya.

Nikmat, entah apa yang kini berada didalam pikiranku. Yang pasti aku turut larut dalam situasi antara kak Dewi dan kak Sinta.
“Kak Dewiii… kak Sinta……, ini Tedy… asssshhh..ahh kak…aku juga..!”, aku merintih dan terus merintih.
Semakin lama kak Dewi kulihat semakin liar, badannya bergerak-gerak, naik-turun searah pinggulnya. Kedua tangannya menangkup kepala kak Sinta.

Semakin lama gerakan kak Dewi semakin liar, lalu pessss, TV mendadak padam. Sialan ! lampu diluar juga padam. Gelap gulita. PLN sialan ! Brengsekkkkkk !!!
Aku terengah-engah, dalam kegelapan. Sudah kadung mendidih, aku teruskan aksiku meski tanpa sensasi visual. Aku merintih dan mendesah sendiri dalam kegelapan. Aku yakin disana kak Dewi dan kak Sinta pun tengah merintih dan mendesah, juga dalam kegelapan…….

Dor ! Dor ! Dor !
“Tedy… bangun, udah siang !“, suara ketukan atau entah gedoran pintu membangunkan aku. Rupanya sudah siang.
“Bangun…!”, suara kak Dewi kembali terdengar.
“Iya..! udah bangun…”, teriakku. Lalu terdengar langkah kaki kak Dewi menjauh dari pintu kamarku.

Ya ampun ! aku terkaget. Berantakan sekali tempat tidurku. Dan bantal guling…, bergegas aku buka sarungnya. Wah nembus !
Dengan terburu-buru kurapikan kamarku, jam menunjukan pukul 8 pagi.

Kalau tidak khawatir mendengar kembali teriakan kak Dewi yang menyuruh sarapan mungkin aku memilih untuk tidur lagi. Akhirnya aku keluar kamar, mengambil handuk, dan bergegas kekamar mandi.

Didekat ruang makan aku berpapasan dengan kak Dewi yang membawa nasi goreng dari dapur. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Rambut lepek kak Dewi yang belum kering benar jelas terlihat.

Aku teringat kejadian tadi malam. “abis keramas nih yee !”, kataku dalam hati.
“Apa senyam-senyum gitu ?”, kak Dewi menatapku heran.
“Enggak …! Siapa… lagi yang senyam-senyum.

Mmm enak !”, kataku sambil menyuap sesendok nasi goreng hangat.
“Mandi dulu sana, dasar jorok !”, kata kak Dewi sambil meletakan piring yang dipegangnya.
“Jorokan juga kak Dewi, gituan dijilatin hiiii….”, kataku dalam hati, tapi kemudian bergegas mandi, eh keramas juga !

Segar sehabis mandi, hampir aku balik lagi ketika menyadari dimeja makan Kak Dewi tengah sarapan ditemani kak Sinta.
“Ikutan Indonesian Idol dong ted !, jangan cuma berani nyanyi dikamar mandi aja !”, itu kalimat yang pertama kudengar dari kak Sinta.

Cantik. Bener- benar cantik. Sumpah ! tapi matanya itu ! aku merasakan keliaran dimatanya ketika menatapku yang hanya terbungkus handuk sepinggang.
“Eh, maaf kirain gak ada kak Sinta, maaf yah…permisi !”, kataku sambil berlalu.
Buru-buru aku ganti baju, menyisir rambut.

Ah kenapa aku ingin nampak keren. Karena ada kak Sinta yang cantik kali ya ? Pandang dari kiri dan kanan. Sip ! Turun kembali ke lantai bawah, menikmati dua wajah cantik, dan sepiring nasi goreng bertabur SoGood Sozzis.
“Nih buruan, sarapan dulu !”, kak Dewi yang kemudian menyuruhku sarapan, sementara mereka sendiri telah selesai.

Aku lalu sarapan dengan diawasi oleh dua mahluk cantik yang tidak buru-buru beranjak dari meja makan. Mereka berbincang ngalor ngidul seputar dunia kerja. Sesekali aku menimpali meskipun mungkin enggak nyambung. “Dasar kuli, hari libur gini masih aja ngurusin kerjaan !”, aku membatin.
“Tumben dihabisin ?”, kata kak Dewi melihat aku makan dengan lahap.
“Abis enak sih !”,
“Biasanya, dia tuh ! susah makannya, di masakin ini-itu…!”,
“Bohong kak ! jangan dengerin !”, kataku menimpali ucapan kak Dewi
“Alah… emang biasanya gitu kok !”, kak Dewi memotong ucapanku. Kak Sinta hanya tersenyum aja. Manis lagi senyumnya.

Mmmuah ! ingin rasanya kusentuh bibirnya itu.
Seminggu berlalu, setiap hari rasanya aku menjadi tambah bejat. Pikiranku kotor terus. Terbayang kak Dewi dan kak Sinta. Namun yang lebih sering menari-nari dalam khayalanku kemudian adalah sosok kak Dewi. Mungkin karena ia yang tiap hari ketemu. Sehingga pikiran kotorku kemudian mengacu kepadanya.

Aku merasa bersalah karena kemudian khayalanku semakin kacau. Aku begitu terobsesi dengan kak Dewi. Setiap menjelang tidur, pikiranku melayang-layang membayangkan kak Dewi. Aku ingin merasakan kehangatan tubuh mulusnya, mengecap setiap inci kulit halusnya. …ahhhhhh…..!!!

Rasanya semua hal yang berkaitan dengan kak Dewi membuatku terangsang. Melihat pakaiannya yang lagi dijemur saja aku terangsang.
Bahkan entah berapa kali ketika kak Dewi tidak ada dirumah, aku mempergunakan benda-benda pribadi kak Dewi menjadi objek fantasiku.

Dan makin lama aku makin berani, hingga aku melakukan self service, di kamar kak Dewi, ketika tidak ada kak Dewi tentunya. Seperti siang itu, sebotol Hand Body Lotion milik kak Dewi kugenggam erat.

Aku terlentang diatas spring bad kak Dewi. Isi lotion telah kukeluarkan sehingga melumuri kemaluanku yang mengacung. Kuurut perlahan, menikmati sensasi yang membuai, sambil sesekali aku menciumi celana dalam pink kak Dewi. Aku benar-benar hanyut dan terbuai dalam kenikmatan. Sehingga aku tak begitu menghiraukan ketika ada suara-suara didepan rumah. Ah… kak Dewi biasanya pulang jam 6.30, sekarang

baru jam 2 siang…. Aman..Ach….shhhh…..
Aku terhanyut dan bergelenyar penuh kenikmatan hingga….
Jeckrek !!! kunci pintu depan dibuka dari luar, lalu pintu terbuka. Seseorang masuk. Ya ampun ! aku sungguh panik. Kak Dewi Pulang !!!
Dengan gemetar dan penuh ketakutan aku mengenakan celana. Ya ampun, berantakan begini, dan… Hand Body Lotion tumpah… mati gue !
Tak dapat dicegah karena pintu kamar memang tak kukunci. Blak…pintu didorong dari luar…
“Tedy…! Ngapain kamu ?”, mata kak Dewi menatapku tajam.
“ng..mmm ini lagi !”, aku tak berkutik. Baju yang kugunakan mengelap ceceran Hand Body Lotion di seprai kugenggam erat.

Wangi Hand Body Lotion tercium kemana-mana. Keringat dingin membasahi tubuhku yang hanya mengenakan training. Napasku tercekat manakala menyadari tatapan kak Dewi ke atas tempat tidur, celana dalam ka Dewi, langerie kak Dewi, bantal guling, dan celana dalamku yang tak sempat kupakai atau kusembunyikan. Shittttt….sialan!

Kak Dewi menghela nafas panjang dan berat, tatapannya sungguh menakutkan. Aku menggigil gemeteran. Kak Dewi pastinya dapat menebak kelakuanku.
“Kok cepet pulangnya kak ?”, dengan susah payah aku bersuara. Tapi kak Dewi tak memperdulikanku. Ia berlalu, langkah kakinya menjauhi kamar.

Lalu terdengar dentingan gelas, dan pintu lemari es dibuka.
Bergegas aku membereskan segala yang berantakan, sekedarnya. Lalu buru-buru meninggalkan kamar kak Dewi !
“Anjing…!, brengsek “, kataku sambil meninju dinding.

“Bodoh, bodoh !”, aku mengutuk diriku sendiri. Aku malu sekali. Dengan penuh ketakutan aku bergegas ganti baju. Pikiranku kacau sekali. Aku dengan mengendap keluar rumah, motorku-pun kudorong keluar halaman.

Lalu aku kabur…ketempat kost temanku.
Tiga hari aku aku tak pulang, temanku sampai terheran-heran dengan kelakuanku. Tapi aku simpan rapat-rapat masalah yang sebenarnya. Aku hanya bilang lagi berantem sama kakaku.

Tadinya aku kebingungan juga kelamaan tidak pulang, mau pulang juga rasanya bagaimana. Namun sebuah telpon dari kak Dewi membuat semuanya lebih baik,
“Tedy kamu kemana aja ? kamu dimana ?”, terdengar suara kak Dewi di HP ku, datar. “mm ng… dirumah temen kak ?”, kataku sedikit bergetar.
“Pulang…nanti kalo mamah nanya gimana ?”, suara kak Dewi masih terdengar datar.

Tapi setidaknya hal itu membuatku sedikit lega. “Iya kak !”, lalu tak terdengar lagi suara kak Dewi. Aku tertegun beberapa saat, namun kemudian aku memutuskan untuk pulang.
Tiba dirumah, tatapan kak Dewi menyambutku. Aku tak berani menatap wajahnya. “kamu kemana aja ?”, suara kak Dewi masih terdengar datar seperti ditelepon. “Mmm…dari rumah Wawan kak !”,
“Makan dulu…tuh kakak udah masak !”, terdengar suara kak Dewi dari ruang tengah. “Iya kak !”, bergegas aku ke meja makan. Melahap makanan yang tersedia dimeja makan, emang gua laperrrr !
Besoknya, suasana masih terasa amat hambar.

Kak Dewi tak mengucap sepatah katapun. Ia membuang muka ketika berpapasan dengan aku yang bermaksud ke kamar mandi. Selesai mandi, ganti baju, kembali keruang makan. Aku dan kak Dewi sarapan seperti biasanya, tapi rasanya suasana betul-betul mencekam.

Kak Dewi nampak buru-buru menyelesaikan sarapannya. Akupun bergegas menghabiskan sisa makananku.
“Kak, maafin Tedy yah !”, kataku sambil meletakan gelas yang airnya habis kuteguk.
Kak Dewi tak bersuara, tapi matanya menatapku, penuh keheranan dan tanda tanya, atau mungkin tatapan apa itu artinya.

Entahlah.
Beberapa hari kemudian setelah situasi dirumah mulai terasa normal, malam itu kak Dewi diruang tengah nonton TV atau mungkin membaca majalah. Entahlah atau bisa kedua-duanya, soalnya TV dinyalakan tapi ia asyik membaca majalah sambil telungkup dipermadani. Dagunya diganjal dengan bantal guling. Aku kemudian duduk disofa, tepat dibelakangnya. Rasanya badanku gemetar menyaksikan pandangan dihadapanku. Sittttt !!!! Pikiran gilaku melintas lagi.

Pantat kak Dewi yang hanya dilapisi selembar baju tidur tipis begitu indah terlihat. Garis celana dalam yang dikenakanya nampak menggurat. Betisnya itu, alamak. Aku tak tahan ingin mengecapnya dengan lidahku. Dan…
“Bikin minum dong, haus nih…!”, Kak Dewi membalikan badannya, dan melihat kearahku yang tengah menikmati bagian belakang tubuhnya.
“Orange, atau susu ?”, tanpa sadar aku melirik kearah dadanya.
Kak Dewi merasakan pandangan mataku, ia membetulkan leher bajunya.
“Susu deh ! tapi jangan penuh-penuh yah !”,
“Ok !”, lalu aku pergi ke ruang sebelah. Seperti kebiasaannya kalau bikin susu ia pasti hanya minta setengah gelas.

“Takut gak abis”, katanya !
“Nih kak !”, kataku sambil meletakkan gelas susu disebelah kanan. Lalu aku bergerak kesebelah kiri kak Dewi. Kak Dewi segera mereguk minuman yang kusediakan untuknya itu. Aku sendiri meraih majalah yang tengah dibaca Kak Dewi.
“Ih apaan nih, sini ! orang lagi dibaca juga !”, kak Dewi berusaha meraih majalahnya kembali. Akhirnya kulepaskan. Aku mengambil remote TV. Sambil tengkurap disamping kak Dewi, aku memindah-mindah chanel.
“Kebiasaan Tedy mah, pindah-pindah terus, balikin TransTV !”, katanya sambil berusaha meraih remote. Akupun menyerah, kukembalikan channel ke TransTV.
Lalu aku memiringkan badan, sekarang aku menghadap kearah kak Dewi. Menatapnya dalam-dalam. Ah… kakak ku sayang, engkau cantik sekali.

Lalu aku mutup kedua mataku rapat-rapat.
“Kak mau tanya, boleh ?”, kataku sambil tetap memejamkan mata.
“Tanya apa sih !”, ia menjawab tanpa menoleh.
“ng…mmmm kenapa Tedy akhir-akhir jadi aneh yah ?”,
“Maksudnya apa ?”,
“Tapi kak Dewi jangan marah yah !”,
“Akhir-akhir ini, tedy sering error. Pikiranya yang begituuu.. aja.

Gak siang gak malem, pusing deh !”,
“Mikirin apa sih ?”,
“Ah… kak Dewi ini. Maksud Tedy… mmm jangan marah yah. Rasanya Tedy gampang terangsang deh !”, kubuka mataku, keterkejutan nampak diwajah kak Dewi. Lalu ia menghela nafas panjang.

“Kebanyakan nonton film jelek kali. Tuh dikomputer hapus-hapusin gambar gambar jelek kayak gitu !”,
“Bisa juga sih…, kalau masturbasi bahaya enggak sih kak?”, aku kembali melontarkan pertanyaan yang mengagetkannya.
”Apaan sih gituan di tanya-tanyain ?!”, nampak kak Dewi agak gusar menimpali pertanyaanku.
“Kalau kata temen tedy sih, mendingan masturbasi daripada main sama cewek nakal, bisa penyakitan !”,

Tak terdengar komentar. Waduh aku kehabisan kata-kata.
“Sebenarnya gara-gara kak Dewi sih !”, dan aku menunggu. Benar saja, kak Dewi bereaksi. Ia menatapku penuh tanya.
“Menurut sebuah survai, 60 % wanita lajang melakukan masturbasi, bener kan ?”, aku kembali melontarkan pukulan kata-kata.
“Kata siapa kamu ?”,
“Kata koran dannnnn… lubang kunci !”,
“Maksud Tedy apa sih…? Kakak jadi pusing !”,
“Tedy tahu rahasia kak Dewi !”,
“Rahasia apa ?”,

“Kak Dewi suka menggeliat-geliat ditempat tidur tanpa pakaian dan memeluk bantal guling !”, akhirnya. Mata Kak Dewi membeliak kaget. Tatapan matanya menyiratkan rasa marah dan malu, tapi ia berusaha menutupinya.
“Kamu ngintip ?”,
“Gak sengaja sih…!”, kubenamkan mukaku dipermadani sambil menunggu efek selanjutnya.
“Tapi tenang aja. Rahasia kak Dewi aman kok ditangan Tedy.

Dan rahasia Tedy ada ditangan kak Dewi.

Sama-sama aman ok ?!”, Kak Dewi tak bersuara. Benar-benar terdiam. Ia malah membolak-balikan halaman majalah.
“Meskipun ada satu rahasia lagi !”, tampak wajah kak Dewi kembali menegang. Pandanganya mengarah kepadaku, yang kini juga menatapnya.
“Kak Sinta… !”, kataku. Kak Dewi benar-benar terhenyak. Ia bangkit hingga terduduk. Aku membalikan badan, terlentang disamping kak Dewi.
“Tenang aja. Tedy gak akan membocorkannya ke siapa-siapa kok !”,
“Tedy tahu semuanya ?”, kata kak Dewi tiba-tiba.

Pandangan matanya kini memelas dan penuh ketakutan.
Aku menganggukan kepala.
“Jangan bilang siapa-siapa, jangan bilang mamah.

Please !”, kak Dewi mengguncang bahuku.
“Tenang…pokoknya aman !”,
Kak Dewi nampak gelisah. Aku tidak tega melihatnya.
Kak Dewi yang sangat baik padaku telah aku antarkan pada suatu kondisi serba salah dan menakutkan baginya. Tapi sudahlah.

Tiba-tiba terdengar dering telp, bergegas aku bangun dan mengangkat gagang telpon.
“Halloo..!”, terdengar suara perempuan diseberang sana.
“Hallo…!”, kataku
“Ini tedy yah ?, kak Dewi ada ?”, suara itu terdengar lembut.
“ng.. ini siapa yah ?”, kataku sambil menduga-duga.
“Ini Sinta…kak Dewi-nya ada ?”,
“Ada…sebentar ya kak !”, kataku.
“Kak… ini kak Sinta !”, kataku pada kak Dewi. Kulihat tiba-tiba expresi kak Dewi menegang. Namun tak urung ia mendekatiku, dan menerima gagang telepon yang kusodorkan.
“Haloo..”,

Aku bergegas pergi, tak ingin mengganggu “sepasang kekasih” yang telepon-an. Aku naik ke lantai atas, menuju kekamarku sendiri. Kukunci pintu kamar, mematikan lampu, dengan perasaan campur aduk.
Beberapa saat kemudian kudengar langkah kaki kak Dewi di tangga menuju kearah kamarku. Lalu tiba-tiba aku mendengar ketukan dan suara kak Dewi.

Aku terdiam, menunggu. “Tedy…!”, kembali terdengar ketukan. Kunyalakan lampu lalu membuka kunci pintu kamar.
Tanpa kupersilahkan kak Dewi menyeruak masuk lalu duduk dipinggir tempat tidur. “Tedy…”, kak Dewi tiba-tiba memecahkan keheningan.
Aku yang hendak menyalakan rokok, menoleh.
Kulihat kak Dewi menatapku dalam-dalam. Nampaknya ada sesuatu yang ingin diucapkanya. Tak jadi menyalakan rokok. Aku menarik kursi, dan membalikanya sehingga menghadap kearah kak Dewi. Lalu aku duduk dihadapan kak Dewi. “Tedy bisa pegang rahasia kan ?”, ia menatapku sungguh-sungguh. Ada ketakutan dimatanya.
“Masalah apa ?”,
“Sinta…!”,

“Oh…!”, aku mengangguk perlahan.
“Jangan sampai Mamah tahu !’,
Aku hanya menatapnya, lalu tersenyum hambar.
“Janji ?!”, kak Dewi menatapku dalam-dalam.

“Janji !”, kataku sambl mengacungkan telunjuk dan jari tengahku.
“Tedy boleh minta apa aja, pasti kakak turutin, syaratnya satu, gak boleh bocorin rahasia !”,
“Tenang…aman !’, kataku agak bergetar.

“Tedy mau minta apa sama kaka?”, nampaknya kak Dewi mencoba bernegosiasi, he he….
“ng…gak minta apa-apa deh…mmm…”, sungguh tak terpikir untuk minta sesuatu pada kak Dewi, lagi pula aku sama sekali gak kepirkiran untuk membocorkan rahasianya. Namun tatapan liarku kearah dada ka Dewi sungguh dinterpretasikan oleh kak Dewi.

“Kakak tahu kok apa yang Tedy inginkan, sini…!”, kak Dewi menepuk spring bad, mungkin maksudnya menyuruhku duduk disampingnya. Aku ragu sesaat.
“Sini….!”, katanya mengulang.

Meskipun ragu aku kemudian beranjak, dan dengan bingung aku duduk disebelahnya. Darahku berdesir saat jemari lembut kak Dewi mengusap punggung tanganku. Lalu ia meraih telapak tanganku.

Jemari tanganku digenggamnya.
“Pasti Tedy sekarang lagi error !”, tiba-tiba kak Dewi berkata datar,
“Apaan sih kak ?”, kataku agak jengah.
“Pake pura-pura lagi !”, kak Dewi mendorong tubuhku.

Karena Kak Dewi mengisyaratkan agar aku terlentang maka aku segera terlentang dengan kakiku menjuntai kelantai.
“Tedy pengen ini kan ?”, jemari kak Dewi merayapi pahaku.

Aku terhenyak menahan nafas. Kemudian kak Dewi tanpa ragu mulai meremas kemaluanku perlahan, ahh….., kedua lututku terangkat parlahan, lalu kuturunkan lagi.
“Kak…”, kataku lirih
“sst…kakak tahu apa yang Tedy inginkan, tenang aja…”, kak Dewi benar-benar meremas-remas kemaluanku. Geletar nikmat perlahan merayap, seiring makin mengerasnya batang kemaluanku. Kuraih bantal, kudekap hingga menutupi mukaku. Rasa jengah dan nikmat membaur menjadi satu.

“Pake malu-malu lagi !”, kak Dewi memaksaku melepaskan bantal. Akhirnya untuk aku hanya bisa menutup mata dan menikmati gelenyar kenikmatan dari setiap remasan tangan kak Dewi. “Ah…shhh..kak….!”,
Tanganku perlahan merayap kearah pinggang kak Dewi, meremasnya perlahan seiring geliat kenikmatan. Aku semakin berani karena kak Dewi tak menolak remasan tanganku dipinggangnya.
Tiba-tiba, “Udah ya…cukup segitu aja !”, tiba-tiba kak Dewi menghentikan remasan tanganya.

“Ah kakak !”, aku merintih kecewa, hampir aku melonjak bangun.
“Kenapa ?”, ia menatapku, sebuah senyum seolah menggoda aku yang tengah konak.
“Tanggung…please…!”, aku merintih dan memelas.
“Dasar….”, katanya sambil memijit hidungku.
Tanpa ragu aku melepaskan training yg kukenakan, kemaluanku yg sungguh telah mengeras, mendongak…
Nampak ada rasa jengah pada tatapan kak Dewi, aku bangkit dari tidurku, “Please…!”, lalu kuraih tangan kak Dewi agar menjamah kemaluanku. Akhirnya tak urung kak Dewi menuruti kemauanku.

Kembali kuhempaskan tubuh, lalu menunggu kak Dewi melakukan hal yg seharusnya. Tangan lembut dan halus kak Dewi menggenggam kemaluanku, nampaknya ia agak ragu, badanku mengerjap sesaat, ketika tangan kak dewi mulai meramas kemaluanku dengan perlahan. Kupenjamkan mata, menikmati setiap kenikmatan yang datang.

Semakin lama keinginanku semakin kuat. Aku merintih, mendesah dan sesekali menggeliat.
Remasan tangan kak Dewi memang nikmat, namun semakin lama aku menginginkan lebih, lalu aku meraih Hand Body dari sela-sela pinggir springbad, dengan gemetar kusodorkan pada kak Dewi.
“Apa ini ?”,
Meski terlihat ragu, perlahan kak Dewi meraih Hand Body Lotion, membuka tutupnya, menumpahkannya ditangan kanannya.

Lalu ia melumuri kemaluanku. Ahhh..
“Maafin Tedy ya kak !”,
“Iya anak nakal !”, katanya. Mungkin seharusnya ia tersenyum tapi aku tidak melihatnya.
“Digimanain ?”, katanya berbisik perlahan.
“Urut aja, keatas dan kebawah, pelan-pelan !”,
“Begini…!”,

“Ya…ah… shhh… kak Dewi…!”, akupun tenggelam dan terbuai dalam kenikmatan. Belaian lembut tangan Kak Dewi sungguh membuat aku terlena. Dan tanpa kuminta kak Dewi telah cukup paham ketika sudah agak mengering dan kesat ditambahkannya lagi cairan Hand Body itu. Ia telah tahu yang kuinginkan.

Caranya mengurut dan meremas sungguh sempurna. Aku kemudian hanya bisa pasrah, merintih dan mendesah.
“ssshhhh… kaka…mkasihhhh…. Mmmm shhhhh enak !”,
Aku terus merintih dan merintih. Kak Dewi benar-benar memanjakan aku. Ia mengurut dan membelai membuat aku terasa melambung-lambung. Tapi lama kelamaan ada rasa ngilu dikemaluanku.

Makin lama makin ngilu.
“kenapa ? udah ?”, kak Dewi bertanya ketika tanganku menahan gerakan tanganya yang masih mengurut dan membelai. “Ngilu…!”, kataku berbisik.
Lalu aku bangkit dari tempat tidurku, sehingga kami duduk berdampingan. Kak Dewi terlihat berusaha mengelap cairan Hand Body yang berlepotan ditanganya. Trainingku menjadi korban. Tanggung sekalian kotor, akupun mengelap kemaluanku dari cairan handbody.

Kami terdiam, beberapa saat.
“Tahu enggak sebenarnya Tedy suka pake bantal guling. Seperti Kak Dewi !”,
“Apa enaknya…!”, pertanyaan itu seolah terlontar begitu saja.
“Ya enak aja. Gesek-gesek. Sambil membayangkan sedang memeluk kak Dewi !”.
“Dasar !”, ia memelintir kupingku.
“kak Dewi…!”,
‘Apa..?”,
‘Tanggung nih !”,
“Tanggung apanya ?”,
“Pura-pura jadi bantal guling mau ?”,
“Apalagi nih !”,

“Tedy gak tahan nih. Tapi kak Dewi gak usah khawatir. Tedy gak merusak apapun. Kak Dewi tetap berbaju lengkap. Kak Dewi hanya berbaring aja. Nanti Tedy…!”, kak Dewi terdiam tak menjawab.
“Cuma gesek-gesek aja !”, aku kemudian menandaskan.
“Gimana ? kamu ini aneh-aneh aja ?”,
“Berbaring dulu kak Dewi-nya. Pokonya aman deh.

Tedy gak bakalan merusak apapun. Janji !”, kataku sambil setengah mendorong tubuh kak Dewi.
Kak Dewi tak urung menurut. Ia beringsut keatas spring bad, lalu kubaringkan tubuhnya hingga terlentang.
Dengan bergetar kemudian aku berbaring menyamping. Lalu kakiku menyilang keatas dua kakinya. Selangkanganku kini menempel ke pahanya. Sayang masing terlindung pakaian yang dikenakannya. Tapi lumayan enak.

Lalu aku mulai menggesek-gesekan kemaluanku kepaha kak Dewi. Rasa nikmat perlahan mengalir seiring gesekan itu. Makin lama makin terasa enak. Tangan kak Dewi kupaksa agar mau melingkari pinggangku. Aku terus menggesek dan menggesek. Sesaat aku lepaskan bajuku, aku kini telanjang bulat, menelungkup tubuh kak Dewi yang masih terbungkus Langerie…

”shhhh…. Mmmm enak kak. Enak ! shhhhh ahhhh shhh !”, tanpa sadar aku menciumi bahu kak Dewi. Aku semaki berani karena kak Dewi membiarkan aku menciumi pundaknya. Makin lama tubuhku makin bergeser. Tahu-tahu aku kini berada diantara dua paha kak Dewi. Kemaluanku menggesek-gesek persis kemaluan kak Dewi. Sungguh nikmat. Geletar-geletar birahi makin memuncak.

Aku mendesis dan merintih sambil sesekali mendaratkan ciuman ke pundak kak Dewi. Lambat laun aku menyadari, setiap aku bergerak dan menggesek, tubuh kak Dewi ikut bergerak seirama gerakan tubuhku. Bahkan beberapa kali ia membetulkan posisi pinggangku.

Kemaluanku terus menggesek-gesek kemaluan kak Dewi. Dan terus bergoyang-goyang berirama.
“Kurang keatas…sakit tahu !”, suara ka Dewi terdengar memburu.
Aku menurut. Aku bergerak lebih keatas. Paha kak Dewi bergerak seolah memberi ruang agar tubuhku bergerak lebih leluasa.

“Pelan…pelan…”, ia mendesis,
“Enak kak?’, akhirnya kulontarkan pertanyaan itu. Kak Dewi terdiam. Namun nafasnya semakin terdengar memburu. Jemari tangannya terasa meremas-remas punggungku.
Tanpa meminta persetujuan aku berusaha meraih celana dalam kak Dewi.
“Mau apa ?”,
“Biar gak sakit lepasin aja yah ?”, ia sedikit mempertahankanya.
“Please !”, kataku. Akhirnya kak Dewi menurut.

Bahkan kakinya bergerak-gerak membantuku melepaskan celana dalam itu. Aku tidak bermaksud menyetubuhi kak Dewi. Tidak benar-benar maskudku. Biar bersentuhan lebih dekat aja. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Kemaluanku menempel pada kemaluan wanita. Sungguh sensasinya luar biasa.

Kemaluanku mengarah kebawah, terjepit diantara paha kak Dewi. Lalu aku mulai menggesek-kesekanya. Ada sesuatu yang hangat namun basah dibawah sana. Semakin kugesekkan semakin terasa nikmat. Tiba-tiba aku mendengar kak Dewi mendesah pelan. Kepalanya mendongak. Kuulangi gerakan dan gesekanku, kembali ia mendesah. Akhirnya kuulangi gesekan diwilayah itu. Aku senang mendengar kak Dewi mendesah-desah dan merintih. Kami ternyata berada pada posisi saling berdekapan.

Wajah kami begitu dekat. Aku merasakan semburan nafas hangat kak Dewi. Dengan lembut kudaratkan bibirku didagunya. Kemudian bergeser, perlahan. Akhirnya bibir kami bertemu. Bibir kak Dewi awalnya diam tak bereaksi ketika bibirku berusaha melumat, tapi lama kelamaan bibir itu membalas lumatan bibirku. Kami berpagutan dan saling melumat.

Semakin lama segalanya semakin liar. Aku kini bahkan sudah mengecap, menjilat bahkan setengah menggigit leher kak Dewi. Ketika jilatan lidahku menyerang pangkal leher dibawah telinganya, kak Dewi mendesah dan merintih. Aku kini benar-benar membuat kak Dewi menjadi hilang kesadaran. Ia telah menjadi benar-benar liar.

Diarahkannya kepalaku untuk menciumi dadanya. Aku maklum dengan apa yang diinginkan kak Dewi. Aku bangit dari cengraman tubuhnya. Lalu dengan gemetar kubuka Langerie yang dikenakan kak Dewi. Kemudian Bra yang dikenakannya. Kini tubuh kak Dewi tak berbalut selembar benangpun, sebagaimana aku. Tak tahan berlama-lama aku merangkul tubuh kak Dewi.

Aku menggumulinya dengan penuh nafsu. Aku jilat setiap inci tubuhnya, semakin kak Dewi merintih semakin aku mejilat dan menggigit. Putting susunya bergantian aku lahap. Aku bagai orang yang kesetanan. Tanpa terasa aku mulai menjilati tubuh kak Dewi bagian bawah. Bahkan aku kini mulai menciumi pangkal paha dan selangkangannya. Kak Dewi merintih dan melenguh. Aku tak tahu bagaimana cara menjilat yang baik dan benar.

Pokonya semakin keras rintihan kak Dewi semakin lama aku menjilat. Kupingku terasa berdenging dan pekak karena terjepit kedua paha kak Dewi. Aku menjilat dan terus menjilat kemaluan kak Dewi. Meskipun hidungku mencium aroma yang aneh, dan lidahku mengecap rasa yang aneh pula. Aku terus menjilat. Bahkan bibirkupun mencium bagian-bagian kemaluan kak Dewi. Aku bahagia mendengar kak Dewi Merintih-rintih dan menjerit. Sampai kemudian kak Dewi menarik kepalaku.

“Sudah-sudah ! ngilu !”,
“Ngilu ?”, batinku. Bukanya enak ?
Nafas kak Dewi tersengal-sengal. Aku segera mengelap mulutku dengan baju kak Dewi, mengusir perasaan tidak nyaman dimulutku. Namun aku masih bernafsu. Ketika aku bermaksud menaiku tubuh kak Dewi.
“Tunggu sebentar. Masih ngilu !?”, katanya.

Akhirnya aku hanya dapat menciumi perut dan dada serta payudara kak Dewi. Kedua tangan kak Dewi membelai-belai rambutku.
Tubuhku perlahan mulai merayap kembali. Masuk kedalam dekapan hangat tubuh kak Dewi. Rasa nikmat itu perlahan kembali mengalir. Kemaluan kami kembali bergesekan. Dan aku mulai meracau…
“Jangan !”, kak Dewi menahan tubuhku. Aku tak tahan lagi. Aku ingin memasukannya. Aku ingin merasakan terbenam dalam lembah kenikmatan itu.

“Jangaaaaannn… please ! Tedy jangan !”, kak Dewi memohon ketika aku mencoba dan memaksa untuk kedua kalinya.
“Tedy udah gak tahan kak ! gak tahan lagi !”,
“Tapi Tedy udah janji, gak bakalan merusak.!”, kak Dewi menghiba.
“Tedy udah gak tahannnnnn….shhhh !”,
“Kak Dewi juga sama. Tapi please jangannnn shhh !”,
Kak Dewi berbisik dengan nafas memburu.

Aku tak tahan lagi. Namun kemudian otak warasku hadir. Kalau dengan bantal guling saja aku bisa puas, kenapa sekarang enggak.
Aku ambil celana dalam kak Dewi, lalu kugunakan untuk menutupi kemaluan kak Dewi. “Tedy pengen keluar disini, boleh yah !”. setengah memohon aku berbisik.

Karena tak dilarang segera aku memposisikan kemaluanku. Mengarah kebawah dan terjepit paha kak Dewi. Kedua Kemaluan kami hanya dipisah selembar celana dalam. Dan aku kemudian mulai menggesek. Mencari sensasi kenikmatan itu. Aku menggesek dan menggesek. Tak beberapa lama, gelombang kenikmatan itu datang. Cratt cratt…..

Aku terkapar diatas tubuh kak Dewi. Terdiam beberapa saat, sebelum kak Dewi mendorong tubuhku yang menindih tubuhnya. Aku terbaring ke samping. Ingin rasanya aku memeluk kak Dewi berlama-lama. Tapi kak Dewi buru-buru bangkit. Dikenakannya Langerie-nya kembali. Lalu bergegas ia keluar dari kamarku. Celana dalamnya yang basah berlumuran ditinggalkannya !

Sejak saat itu, rahasia dirumah ini bertambah, sampai sekarang kami terus melakukanya, tidak terlalu sering memang, namun ketika aku menginginkan atau ketika kak Dewi “kepengen” (begitulah istilah kak Dewi), maka kami akan melakukannya. Didapur, dikamar mandi, diruang tengah, bahkan diruang tamu. Satu hal yang tetap kami jaga, kami tidak benar-benar bercinta, sungguh akupun komit dengan janjiku, aku teramat menyayangi kak Dewi, aku tak ingin merusaknya, semua yang kuperoleh telah lebih cukup bagiku. Dan mudah-mudahan akan tetap saperti itu.